Aksi jual investor asing di pasar saham Indonesia meningkat dalam sepekan terakhir, bersamaan dengan kenaikan volume transaksi dan nilai perdagangan harian. Data yang disampaikan menunjukkan investor asing melepas saham senilai Rp5,03 triliun, lebih besar dibandingkan aksi jual pada pekan sebelumnya yang mencapai Rp3,15 triliun.
Menurut Herditya, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat menjadi salah satu faktor yang diperkirakan mendorong keluarnya dana dari pasar Indonesia. Kondisi tersebut juga dinilai mencerminkan mulai berkurangnya keberanian investor asing untuk mengambil risiko pada aset di Indonesia.
“Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS diperkirakan menyebabkan aliran dana keluar, dan diperkirakan investor asing mulai mengurangi risiko terhadap aset di Indonesia,” kata Herditya.
Likuiditas meningkat, volatilitas ikut naik
Herditya juga menyoroti penerapan kebijakan batas bawah Rp1. Menurut dia, kebijakan tersebut tidak hanya meningkatkan likuiditas perdagangan, tetapi juga berpotensi memperbesar volatilitas di pasar saham.
Perubahan pada aktivitas transaksi terlihat dari rata-rata volume perdagangan harian. Dalam sepekan, rata-rata volume transaksi meningkat 72,51 persen menjadi 50,37 miliar saham. Pada pekan sebelumnya, rata-rata volume transaksi tercatat 29,20 miliar saham.
Kenaikan volume tersebut berlangsung ketika aksi jual asing justru membesar. Artinya, jumlah saham yang berpindah tangan meningkat, sementara investor asing mencatatkan penjualan bersih yang lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya. Data itu menggambarkan perdagangan yang lebih aktif, tetapi tidak serta-merta menunjukkan penguatan minat beli dari investor asing.
Nilai transaksi naik, frekuensi perdagangan turun
Selain volume, rata-rata nilai transaksi harian juga mengalami peningkatan. Nilainya naik 5,4 persen menjadi Rp12,63 triliun dari sebelumnya Rp11,98 triliun.
Namun, kenaikan nilai dan volume transaksi tidak diikuti oleh peningkatan frekuensi perdagangan. Rata-rata frekuensi transaksi harian justru turun 7,54 persen menjadi 1,68 juta kali transaksi, dari 1,82 juta kali transaksi pada pekan sebelumnya.
Perbedaan pergerakan antara volume, nilai, dan frekuensi transaksi menjadi bagian dari gambaran aktivitas pasar dalam sepekan tersebut. Volume saham yang diperdagangkan bertambah signifikan, sementara nilai transaksi hanya meningkat secara moderat dan jumlah kejadian transaksi harian menurun.
Di tengah kondisi itu, Herditya menempatkan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS serta penerapan kebijakan batas bawah Rp1 sebagai faktor yang perlu diperhatikan karena berkaitan dengan arus dana, likuiditas, dan tingkat volatilitas perdagangan saham di Indonesia.





