Mengapa Bogor Sering Hujan? Ini Penjelasan Ilmiahnya

by -47 Views

Hujan yang kerap turun di Bogor bukan semata-mata akibat kebetulan atau julukan “Kota Hujan”. Letak geografis, keberadaan pegunungan, pasokan uap air dari laut, serta dinamika atmosfer saling berperan dalam membuat hujan lebih mudah terbentuk di wilayah tersebut.

Kota Bogor berada di bagian barat Pulau Jawa dan berdekatan dengan kawasan Gunung Salak serta Gunung Gede-Pangrango. Pegunungan itu memengaruhi pembentukan hujan melalui proses yang dikenal sebagai hujan orografis.

Pegunungan dan udara lembap memperkuat pembentukan hujan

Prosesnya dimulai ketika udara yang membawa banyak uap air bergerak menuju pegunungan. Kontur lereng memaksa udara tersebut naik. Seiring bertambahnya ketinggian, suhu udara menurun sehingga uap air mengalami kondensasi dan membentuk awan. Jika kandungan air di dalam awan sudah mencukupi, hujan akan turun.

Mekanisme tersebut membuat wilayah di sekitar pegunungan berpotensi menerima curah hujan lebih tinggi dibandingkan daerah yang relatif datar. Penelitian di Indonesia juga menunjukkan bahwa efek orografis dapat meningkatkan curah hujan di wilayah yang berada pada sisi datangnya angin.

Selain dikelilingi pegunungan, Bogor relatif terbuka terhadap pengaruh angin laut. Penelitian Institut Pertanian Bogor (IPB) mengenai karakteristik curah hujan di Kota Bogor menyebutkan, kondisi itu membuat kota tersebut menerima curah hujan relatif tinggi.

Angin dari laut membawa udara yang mengandung uap air menuju daratan. Ketika udara lembap itu bertemu dengan topografi pegunungan dan kondisi atmosfer yang mendukung, pertumbuhan awan hujan dapat menjadi lebih aktif. Karena itu, hujan di Bogor terbentuk melalui gabungan pasokan kelembapan dan kondisi geografis yang membantu udara bergerak naik.

Hujan cenderung meningkat pada sore hari

Hujan di Bogor juga memiliki pola waktu tertentu. Berdasarkan penelitian IPB yang menggunakan data 2017-2020, curah hujan di Kota Bogor cenderung meningkat sejak siang hingga malam, dengan puncak kejadian pada sore hari. Pada Desember hingga Februari, hujan dapat terjadi hampir setiap jam, terutama dengan peningkatan kejadian sekitar pukul 15.00 hingga 18.00 WIB.

Pola tersebut berkaitan dengan pemanasan permukaan bumi pada siang hari. Saat permukaan tanah menerima panas matahari, udara di dekatnya menjadi lebih hangat dan bergerak naik. Jika udara itu cukup lembap, proses tersebut dapat memicu pertumbuhan awan konvektif. Karena itu, cuaca panas pada siang hari tidak selalu berlanjut menjadi sore yang cerah.

BMKG menyebut pertumbuhan awan hujan di Jawa Barat juga dipengaruhi faktor atmosfer berskala lebih luas. Beberapa di antaranya adalah kelembapan udara yang tinggi, suhu muka laut yang relatif hangat, pertemuan atau belokan angin, serta atmosfer yang labil. Dalam sejumlah kejadian cuaca ekstrem, BMKG turut mencatat pengaruh topografi pegunungan atau efek orografis terhadap pertumbuhan awan hujan, termasuk di wilayah Bogor.

Meski demikian, Bogor tidak selalu diguyur hujan sepanjang hari. Frekuensi dan intensitasnya berubah mengikuti musim serta kondisi atmosfer. Penelitian IPB mencatat, pada Juni hingga Agustus, hujan malam hingga awal siang jauh lebih jarang. Penelitian lain juga menemukan Bogor memiliki persentase bulan basah yang tinggi dan curah hujan tahunan yang relatif tinggi dibandingkan sejumlah kota besar lain di Indonesia.

Source link