Aksi Jual Surat Utang Global Jadi Sorotan Utama Pekan Ini

by -57 Views

Aksi jual di pasar obligasi global menguat pada pekan yang berakhir Minggu (27/9/2026), setelah imbal hasil surat utang Amerika Serikat bertenor 10 tahun menembus kisaran 5,19 persen. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak 2007, meski imbal hasilnya kemudian ditutup di sekitar 5,16 persen.

Tekanan lebih besar terlihat pada tenor 30 tahun. Imbal hasil surat utang tersebut mencapai 5,46 persen, level yang terakhir kali terlihat pada 2004. Kenaikan imbal hasil ini membuat investor menilai kembali prospek suku bunga, inflasi, serta daya tarik aset di berbagai negara.

Data ekonomi AS memperkuat tekanan

Menurut riset Ashmore Asset Management Indonesia, lonjakan imbal hasil obligasi AS terutama dipicu oleh data ekonomi yang menunjukkan aktivitas masih kuat. Flash composite Purchasing Managers’ Index (PMI) tercatat 58,4, jauh di atas ekspektasi 55,2. Pada saat yang sama, klaim tunjangan pengangguran tetap rendah di angka 197.000.

JPMorgan memperkirakan hasil survei tersebut mengindikasikan pertumbuhan ekonomi AS sekitar 5 persen secara tahunan. Laju itu dinilai terlalu tinggi bagi Federal Reserve atau The Fed, yang tengah berupaya menurunkan inflasi.

“Pasar kini melihat peluang lebih besar terjadinya kenaikan suku bunga, dengan satu kali kenaikan sudah sepenuhnya diperhitungkan (priced in) sebelum akhir tahun,” demikian dikutip dari riset Ashmore.

Ekspektasi kenaikan suku bunga membuat investor meminta imbal hasil lebih tinggi untuk memegang surat utang AS. Tekanan tersebut turut diperbesar oleh besarnya pinjaman pemerintah dan wacana kemungkinan larangan ekspor diesel oleh AS, menurut Ashmore.

Risiko geopolitik menjaga harga minyak tetap tinggi

Faktor geopolitik di kawasan Teluk juga ikut memengaruhi sentimen pasar. Ashmore menyebut harapan terhadap terobosan cepat di kawasan tersebut mulai memudar setelah Iran menetapkan syarat tegas untuk kembali membuka Selat Hormuz. Serangan rudal Houthi yang menyasar Arab Saudi turut menjadi perhatian investor.

Perkembangan itu membantu menjaga harga minyak Brent tetap berada di kisaran US$105. Harga energi yang tinggi berpotensi menambah tekanan inflasi, terutama ketika pasar sedang memperkirakan kebijakan moneter AS masih dapat bergerak lebih ketat.

“Ketika obligasi yang dianggap paling aman di dunia memberikan imbal hasil di atas 5 persen, investor menuntut imbal hasil lebih tinggi dari aset-aset lainnya. Hal ini mendukung penguatan dolar AS dengan mengorbankan mata uang negara berkembang,” kata Ashmore dalam risetnya.

Meski tekanan di pasar surat utang dan mata uang negara berkembang meningkat, pasar saham emerging markets global tetap bertahan. Indeks MSCI Emerging Markets naik 2,6 persen sepanjang pekan tersebut. Kinerja itu menjadi pengingat bagi investor mengenai pentingnya diversifikasi eksposur saham lintas negara.

Source link