Negara Kacau Balau, Perang Saudara di Depan Mata?

by -52 Views

Konflik bersenjata kembali membara di Ethiopia setelah pasukan dari wilayah Tigray menyerang sejumlah wilayah di Afar dan Amhara. Eskalasi ini terjadi bersamaan dengan pembentukan aliansi tujuh kelompok bersenjata yang secara terbuka bertujuan menggulingkan pemerintahan Perdana Menteri Abiy Ahmed di Addis Ababa.

Perkembangan tersebut memicu kekhawatiran perang saudara 2020-2022 akan berulang. Konflik sebelumnya antara militer Ethiopia dan Tigray People’s Liberation Front (TPLF), partai politik sekaligus kelompok paramiliter yang menguasai Tigray, menewaskan sekitar 600.000 orang.

Bandara direbut, penerbangan dihentikan

Pada Minggu (20/9/2026), tujuh kelompok bersenjata dari berbagai wilayah Ethiopia, termasuk TPLF, mengumumkan pembentukan Ethiopian Peoples’ Forces Alliance for Survival. Aliansi itu menyatakan tujuan menggulingkan pemerintahan Ethiopia.

Tiga hari kemudian, Rabu (23/9/2026), TPLF merebut kendali atas tiga bandara dari polisi federal. Ethiopian Airlines, maskapai milik negara, lalu menghentikan penerbangan ke wilayah tersebut “karena situasi yang sedang berlangsung”. Penerbangan menuju Lalibela, kota bersejarah Ethiopia, juga dihentikan pada Kamis (24/9/2026) akibat pertempuran di sekitarnya.

Pada hari yang sama, sumber kemanusiaan di Afar mengatakan kepada AFP bahwa terjadi serangan artileri berat ketika pasukan TPLF berupaya merebut Kota Yallo, yang berada tidak jauh dari perbatasan Tigray. Sumber keamanan asing yang berbasis di Ethiopia menyebut TPLF telah merebut Abala, kota di perbatasan Tigray-Afar, pada Rabu. Sumber dari TPLF menyatakan mereka juga menguasai beberapa kota lain di Afar.

Pertempuran turut dilaporkan berlangsung di sekitar Weldiya, Amhara. Kota tersebut berada di salah satu dari sedikit jalur yang dapat digunakan menuju ibu kota Ethiopia.

Warga mulai menimbun kebutuhan pokok

Situasi keamanan berdampak langsung terhadap warga Tigray. Penduduk mulai menimbun makanan dan uang tunai karena khawatir wilayah itu kembali terkepung seperti pada perang sebelumnya. Di Adigrat, kota yang berada dekat perbatasan Eritrea, warga dilaporkan membeli kebutuhan pokok dalam jumlah besar hingga rak-rak toko mulai kosong.

“Kelangkaan makanan semakin memburuk karena rak-rak pasar kosong … Obat-obatan penting tetap langka dan harganya sangat mahal,” kata seorang warga kepada Reuters. “Bertahan hidup setiap hari telah menjadi perhitungan yang terus-menerus.”

Wakil Presiden TPLF Amanuel Assefa mengatakan bentrokan telah berubah menjadi perang terbuka. “Kami sekarang berada dalam situasi perang besar-besaran,” katanya kepada AFP. Ia juga membenarkan pasukan Tigray bertempur bersama kelompok bersenjata lokal di Afar dan Amhara.

Militer Ethiopia pada Kamis untuk pertama kalinya memberikan pernyataan terbuka mengenai pertempuran itu. Angkatan bersenjata Ethiopia mengklaim telah menggagalkan serangan dan membunuh, melukai, atau menangkap lebih dari 500 pejuang lawan.

Dukungan Eritrea dan seruan deeskalasi

Para analis menilai TPLF mendapat dukungan dari Eritrea, negara tetangga sekaligus rival lama Ethiopia. Eritrea disebut khawatir Ethiopia, yang tidak memiliki akses langsung ke laut, sedang merencanakan invasi untuk memperoleh akses ke Laut Merah. Assefa mengatakan TPLF tidak mengetahui rencana Eritrea dan belum akan meminta campur tangan negara tersebut.

Perubahan ini memperlihatkan pergeseran aliansi dibandingkan perang 2020-2022. Saat itu, Eritrea dan Fano—kelompok pemberontak yang kini masuk dalam aliansi baru—justru bertempur bersama pemerintah Ethiopia melawan TPLF.

Presiden Ethiopia Taye Atske-Selassie Amde, dalam pidatonya di Sidang Umum PBB pada Rabu, mengecam “kekuatan penghancuran dan kekacauan” serta “campur tangan dalam urusan dalam negeri kami oleh pihak-pihak yang bermusuhan”. Juru bicara Abiy, Billene Seyoum, menuduh anggota aliansi baru telah lama bekerja sama dengan dukungan pendanaan Eritrea. Pemerintah Eritrea berulang kali membantah tuduhan tersebut.

Pertempuran terbaru menjadi tantangan paling serius terhadap Kesepakatan Pretoria 2022, yang mengakhiri perang saudara dan sempat menjaga situasi relatif tenang. Ketua Uni Afrika Mahmoud Ali Youssouf menyerukan “pengendalian diri semaksimal mungkin” dan meminta perundingan langsung dilanjutkan. Uni Eropa juga mendesak “deeskalasi segera” serta kembalinya komitmen terhadap kesepakatan tersebut.

Kekhawatiran meluas karena konflik ini berpotensi berkembang menjadi krisis regional. Kelompok bersenjata dari negara-negara sekitar dapat terseret, sementara kawasan itu sudah berada di bawah tekanan akibat perang di Sudan dan ketegangan di sepanjang Laut Merah.

Source link