Senjata Makan Tuan, Krisis Baru Sengsarakan Warga Israel

by -48 Views

Israel meminta warga menghemat air setelah ledakan populasi mikroalga di Laut Mediterania mengganggu sebagian besar kapasitas fasilitas desalinasi di sepanjang pesisirnya. Fenomena yang membentang hingga sekitar 100 kilometer itu menyumbat sistem penyaring di lima dari enam fasilitas desalinasi utama Israel.

Kelima fasilitas tersebut sempat berhenti beroperasi selama beberapa hari. Hingga Kamis (24/9/2026), operasionalnya belum sepenuhnya pulih dan masih berjalan di bawah kapasitas normal. Pasokan air di wilayah selatan Israel dikurangi, sementara para petani diminta menghentikan irigasi. Para ekonom memperkirakan kebijakan itu pada akhirnya dapat mendorong kenaikan harga pangan.

Limbah Gaza dikaitkan dengan ledakan alga

Sejumlah ilmuwan menilai krisis tersebut berkaitan dengan kerusakan besar-besaran infrastruktur pengolahan air limbah di Gaza akibat perang. Kerusakan itu membuat limbah tanpa pengolahan mengalir dalam jumlah besar ke Laut Mediterania.

Asosiasi Lingkungan Zalul, organisasi nonpemerintah Israel yang berfokus pada perlindungan laut dan pesisir, mengatakan pencemaran tidak berhenti di batas politik. “Pencemaran tidak mengenal batas politik,” kata Zalul, seperti dilansir The Guardian.

Menurut organisasi itu, limbah Gaza mengandung nutrisi seperti nitrogen dan fosfor. Zat tersebut menjadi makanan bagi mikroalga dan sianobakteri sehingga dapat memperparah ledakan pertumbuhan organisme di laut.

Jack Gilron, profesor emeritus sekaligus pakar desalinasi di Zuckerberg Institute for Water Research, Ben-Gurion University, mengatakan aliran limbah dari Gaza meningkatkan risiko terhadap sistem produksi air Israel di sepanjang pesisir selatan Mediterania.

“Insiden saat ini semakin menegaskan perlunya persiapan menghadapi ancaman terhadap salah satu sumber utama air minum Israel,” ujar Gilron.

Infrastruktur air Gaza nyaris lumpuh

Krisis air dan sanitasi di Gaza masih berlangsung meski gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat telah berjalan sejak tahun lalu. Berdasarkan laporan Médecins Sans Frontières (MSF), sekitar 90 persen infrastruktur air dan sanitasi di wilayah itu hancur sejak bombardir Israel dimulai pada 7 Oktober 2023. Sumur, jaringan pipa, waduk, dan unit desalinasi termasuk yang terdampak.

Omar Shatat, wakil direktur eksekutif Coastal Municipalities Water Utility di Gaza, mengatakan seluruh lima fasilitas pengolahan air limbah di wilayah tersebut tidak lagi beroperasi. Akibatnya, sekitar 45.000 meter kubik limbah tanpa pengolahan diperkirakan mengalir ke laut setiap hari. Sebanyak 15.000 meter kubik limbah mentah lainnya meresap ke air tanah melalui lubang resapan, terutama di kamp-kamp informal al-Mawasi.

“Ini merupakan situasi yang sangat buruk dari sisi lingkungan maupun kesehatan masyarakat,” kata Shatat. Ia menyebut warga Gaza dan para pengungsi menjadi kelompok pertama yang terdampak karena bersentuhan langsung dengan konsentrasi limbah tertinggi.

Sebelum perang, sekitar 80 persen kebutuhan air Gaza berasal dari akuifer pesisir. Kini sumber tersebut tercemar air laut dan limbah sehingga tidak layak dikonsumsi. Jaringan pipa yang berada di bawah kendali otoritas air Israel juga diputus pada awal perang dan baru sebagian kembali beroperasi. Kerusakan distribusi membuat sebagian besar penduduk bergantung pada truk tangki.

Keterbatasan air memperbesar risiko penyakit, termasuk diare akut. Pat Griffiths, juru bicara Komite Internasional Palang Merah (ICRC) di Kota Gaza, memperingatkan kondisi itu dapat memburuk saat musim dingin. Di tengah tumpukan sampah dan limbah mentah, populasi tikus juga meningkat di kamp-kamp pengungsian. Serangan hama serupa mulai dirasakan warga Israel di dekat perbatasan Gaza, dengan tikus masuk ke rumah dan memenuhi kebun.

Zalul memperingatkan, pencemaran yang berlanjut dapat berdampak ke seluruh Israel. “Ketika lingkungan laut tercemar, manusia dan alam sama-sama menderita. Terlepas dari sisi perbatasan mana mereka berada,” kata organisasi tersebut.

Source link