Krisis BBM Makin Parah, Pemerintah Dorong PNS WFH

by -64 Views

Pemerintah Iran memperketat penghematan energi dengan memangkas jam kerja di kantor-kantor pemerintah dan memindahkan sebagian pekerjaan ke rumah. Kebijakan ini berlaku mulai 23 September hingga akhir tahun kalender Iran, yang jatuh pada akhir Maret 2027.

Selama periode tersebut, pegawai pemerintah hanya diwajibkan hadir di kantor pada pukul 08.00 hingga 13.00 waktu setempat. Sisa jam kerja sesuai kontrak akan dijalankan secara daring dari rumah. Pemerintah belum mengungkap jumlah pegawai yang terdampak maupun pengaruh perubahan pola kerja itu terhadap efisiensi pelayanan publik.

Transportasi umum digratiskan

Setiap instansi pemerintah juga harus menetapkan satu hari dalam sepekan bagi pegawai dan manajer untuk menggunakan transportasi umum saat bepergian ke tempat kerja. Sejumlah menteri bahkan mengunggah video perjalanan mereka menggunakan metro sebagai bagian dari kampanye penghematan tersebut.

Untuk mendorong masyarakat mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, layanan metro dan bus rapid transit (BRT) digratiskan hingga pertengahan November. Kendaraan dinas pemerintah yang sudah tua akan diganti secara bertahap dengan kendaraan listrik, kendaraan berbahan bakar gas, atau kendaraan hibrida. Namun, proses penggantian itu diperkirakan membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Kantor-kantor yang berkaitan dengan pemerintah diwajibkan mematikan pemanas dan lampu setelah jam kerja selesai. Pembukaan kembali universitas juga akan dilakukan secara bertahap dan terbatas, dengan sebagian perkuliahan dialihkan ke sistem daring. Pengaturan bagi sekolah, universitas, fasilitas kesehatan, dan layanan operasional lainnya akan diumumkan secara terpisah.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian sebelumnya menandatangani arahan pada 12 September agar lembaga pemerintah memfasilitasi kerja jarak jauh bagi pegawai yang memungkinkan. Kebijakan itu ditujukan untuk menekan konsumsi bensin, listrik, dan gas alam pemerintah.

“Kami telah memulai penghematan konsumsi bersama pemerintah,” kata Pezeshkian, seperti dilansir Al Jazeera.

Defisit pasokan mencapai 10 juta liter per hari

Langkah tersebut diterapkan ketika Iran menghadapi tekanan berat pada sektor energi dan perekonomian. Pada awal September, pemerintah menaikkan kembali harga BBM untuk kuota tingkat ketiga. Itu merupakan kenaikan kedua dalam waktu kurang dari setahun. Konsumsi bensin di atas 110 liter per bulan kini dikenai harga dua kali lipat, sementara kendaraan impor dan sejumlah kategori kendaraan lain hanya mendapat akses ke tingkat harga BBM paling mahal.

Dalam lima bulan pertama tahun Iran yang berakhir pada 22 Agustus, produksi bensin rata-rata tercatat 122 juta liter per hari. Konsumsi mencapai 132 juta liter per hari, sehingga terjadi defisit sekitar 10 juta liter setiap hari. Selisih produksi dan konsumsi itu masih berada di kisaran yang sama pada paruh pertama bulan keenam tahun Iran tersebut.

Blokade laut Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan di wilayah selatan Iran yang diberlakukan sejak Juli menghentikan impor BBM yang sebelumnya membantu menutup kekurangan pasokan. Blokade itu juga menghambat ekspor minyak Iran dengan supertanker melalui Selat Hormuz dan menekan pemasukan devisa negara. Meski begitu, minyak mentah Iran yang tersimpan di perairan terbuka di luar garis blokade masih dijual secara bertahap ke China.

Serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap fasilitas minyak dan gas, perusahaan petrokimia, serta depo bahan bakar utama turut memengaruhi produksi dan distribusi energi. Menteri Perminyakan Iran Mohsen Paknejad pada awal September mengatakan, “Sebagian besar kapasitas produksi kini telah dipulihkan secara signifikan, dan prosesnya terus berlanjut.”

Ekonomi ikut tertekan

Data Pusat Statistik Iran menunjukkan produk domestik bruto riil negara itu turun 10,1 persen secara tahunan pada periode akhir Maret hingga akhir Juni 2026. Ekstraksi minyak dan gas merosot 26,4 persen. Jika sektor minyak dihitung bersama, industri dan pertambangan menyusut 14,7 persen, konstruksi turun 6,4 persen, sementara jasa berkontraksi 4,8 persen. Transportasi, pergudangan, dan komunikasi mencatat penurunan 17 persen.

Iran sebelumnya juga berulang kali menghadapi krisis energi yang dikaitkan dengan buruknya pengelolaan dan usia infrastruktur. Di tengah inflasi serta tekanan akibat perang dengan Amerika Serikat dan Israel, sebagian warga melihat kebijakan kerja dari rumah dan penghematan pemerintah sebagai cerminan persoalan yang lebih luas, termasuk salah kelola, korupsi, dan inefisiensi di organisasi terkait pemerintah.

Source link