Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik menguat tajam pada penutupan perdagangan Rabu, 23 September 2026. Penguatan ini terjadi setelah Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75 persen, sekaligus memberi dorongan pada saham-saham perbankan dan sejumlah sektor berbasis komoditas.
Berdasarkan data RTI, IHSG ditutup naik 1,56 persen ke level 6.374,91. Indeks LQ45 juga menguat 1,21 persen menjadi 633,18. Seluruh sektor saham tercatat berada di zona hijau, sementara sebagian besar indeks saham acuan lainnya turut menguat.
Keputusan BI redakan kekhawatiran pasar
Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji, mengatakan penguatan IHSG terutama terlihat pada sesi II setelah hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI diumumkan. Menurut dia, keputusan untuk menahan BI Rate memberikan kepastian bagi pelaku pasar di tengah tekanan terhadap rupiah dan kenaikan yield global.
“Keputusan tersebut memberikan kepastian bagi pelaku pasar sekaligus meredakan kekhawatiran terkait arah kebijakan moneter domestik, terutama di tengah tekanan terhadap rupiah dan kenaikan yield global,” ujar Nafan saat dihubungi Liputan6.com.
Pasar kemudian merespons keputusan tersebut melalui penguatan saham-saham bank besar. Hingga sesi II, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BBRI naik sekitar 1,57 persen. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menguat 1,21 persen, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) naik 0,96 persen, sedangkan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) meningkat 0,84 persen.
Nafan menilai stabilitas suku bunga membuat investor memiliki visibilitas yang lebih baik terhadap biaya dana, kualitas aset, serta prospek margin bunga bersih perbankan. Dengan kapitalisasi pasar yang besar, kenaikan saham-saham bank besar tersebut memberikan kontribusi signifikan terhadap penguatan IHSG.
Saham komoditas ikut menopang penguatan
Sebelum keputusan BI menjadi perhatian utama, sektor barang baku telah menjadi salah satu penggerak pasar. Saham berbasis komoditas seperti INDY, MDKA, dan HRTA juga mencatatkan penguatan signifikan pada perdagangan tersebut.
Menurut Nafan, penguatan IHSG ditopang kombinasi sektor keuangan, barang baku, energi, dan konsumer siklikal. Sentimen positif dari bursa global serta rebound saham-saham berbasis komoditas turut meningkatkan kembali minat investor terhadap aset berisiko.
Penguatan itu terjadi sehari setelah IHSG terkoreksi cukup dalam, yakni sebesar 1,69 persen pada perdagangan sebelumnya. “Selain itu, sentimen positif dari bursa global serta rebound saham-saham berbasis komoditas turut membantu memperkuat risk appetite investor setelah IHSG terkoreksi cukup dalam 1,69% pada perdagangan sebelumnya,” kata Nafan.
Setelah perhatian awal tertuju pada saham-saham komoditas, keputusan BI membuat fokus pasar bergeser lebih kuat ke sektor perbankan. Pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar tersebut kemudian menjadi salah satu penopang utama kenaikan IHSG hingga akhir perdagangan.





