Reaksi Pengusaha Minuman RI terhadap Gejolak Dolar AS

by -86 Views

Industri Minuman Kemasan RI Terancam, Pengusaha Keluhkan Dampak Pelemahan Rupiah

Jakarta, CNBC Indonesia – Asosiasi Industri Minuman Ringan (ASRIM) meminta pemerintah mengambil langkah strategis dalam menjaga keberlangsungan industri minuman kemasan di Indonesia. Pasalnya, pelemahan nilai tukar rupiah yang mencapai Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) membawa dampak signifikan terhadap bahan baku produksi.

Pelemahan Rupiah Berdampak pada Industri Minuman Kemasan

Ketua Umum Asosiasi Industri Minuman Ringan (ASRIM), Triyono Prijosoesilo, menyatakan bahwa tren pelemahan rupiah diperkirakan akan meningkatkan Cost of Goods Sold (COGS) industri sebesar 10%-30%, termasuk dengan estimasi kenaikan harga bahan baku dan biaya produksi lainnya. Hal ini menjadi perhatian serius karena pelemahan kurs mencapai sekitar 90% dari awal tahun.

Triyono menekankan pentingnya peran pemerintah dalam menjaga nilai tukar rupiah agar tidak terlalu dalam, karena hal tersebut akan berdampak langsung pada pasokan bahan baku bagi industri minuman kemasan.

Perjuangan Industri Minuman Siap Saji dalam Kemasan

Potensi kenaikan harga minuman siap saji dalam kemasan menjadi salah satu tantangan di tengah pelemahan rupiah. Selisih kurs yang semakin lebar dan peningkatan biaya produksi memberikan beban tambahan bagi pelaku usaha.

ASRIM berharap pemerintah dapat menjaga nilai tukar rupiah agar industri minuman siap saji dapat merencanakan strategi dengan lebih baik. Dengan fluktuasi nilai tukar yang tidak stabil, industri minuman siap saji nasional dapat terganggu, terutama karena ketergantungan pada bahan baku impor.

Hambatan dan Tantangan Industri Minuman Kemasan

Selain pelemahan rupiah, industri minuman kemasan juga menghadapi hambatan berupa rencana cukai MBDK, logistik dan energi, serta kebijakan Front of Pack Labelling (FOPL). Hal ini dapat mempengaruhi operasional dan inovasi industri dalam menyediakan produk minuman kemasan.

Tri Junanto Wicaksono, Sekretaris Jenderal ASRIM, menyoroti bahwa pelemahan rupiah secara langsung meningkatkan biaya produksi. Ketergantungan pada bahan baku impor menjadi salah satu alasan utama.

Untuk mengatasi hal ini, pelaku usaha minuman siap saji berupaya mengurangi ketergantungan pada impor dengan memanfaatkan sumber daya lokal. Meskipun demikian, standarisasi dan efisiensi produksi tetap menjadi fokus utama para pelaku usaha.

Dengan berbagai tantangan yang dihadapi, para pelaku industri minuman siap saji tetap berharap dapat mendapatkan dukungan pemerintah dalam menjaga keberlangsungan bisnis mereka. Upaya efisiensi, diversifikasi produk, dan inovasi terus dilakukan untuk menjaga daya saing dan keterjangkauan produk minuman kemasan.

Source link