Nvidia, perusahaan teknologi terkemuka, menghadapi dampak dari kehilangan potensi pendapatan di China. Namun, perusahaan ini melihat peluang pertumbuhan di kawasan lain, terutama di Timur Tengah. Mereka baru saja menjalin kerja sama strategis untuk membangun pusat data raksasa di Uni Emirat Arab yang dilengkapi dengan infrastruktur AI hingga 5 gigawatt. Kesepakatan serupa juga terjadi di Arab Saudi dan Taiwan.
Colette Kress, CFO Nvidia, menyampaikan bahwa perusahaan memiliki rencana untuk proyek-proyek dengan infrastruktur AI Nvidia puluhan gigawatt di masa depan. Meskipun demikian, pembatasan ekspor ke China masih memberikan dampak negatif yang signifikan pada pendapatan perusahaan, terutama pada segmen pusat data.
AS hanya mengizinkan chip AI Nvidia H20 diekspor ke China, dan hal ini telah menyebabkan perkiraan kerugian sebesar USD 5,5 miliar pada bulan April sebelumnya. Meskipun begitu, dalam laporan terbaru, Nvidia mencatat kerugian kuartal pertama yang lebih rendah dari perkiraan, yakni USD 1 miliar lebih kecil karena berhasil memanfaatkan kembali sebagian bahan produksi.
Meskipun terjadi penurunan penjualan chip H20 pada kuartal pertama, Nvidia tetap berhasil mencatat pendapatan sebesar USD 4,6 miliar dari chip H20. Pasar China tetap memberikan kontribusi sebesar 12,5% terhadap total pendapatan perusahaan dalam periode yang sama. Ini menunjukkan bahwa Nvidia tetap stabil meskipun mengalami tantangan dari pembatasan ekspor ke China.





