Banyak Negara Menyerang PBB di Gaza, Rusia Marah

by -20 Views
Banyak Negara Menyerang PBB di Gaza, Rusia Marah

Situasi Timur Tengah masih memanas. Serangan Israel masih terjadi di Gaza, Palestina. Meski ada laporan kemungkinan gencatan senjata baru, perang masih terjadi. Belum lagi situasi Laut Merah dan memanasnya Amerika Serikat (AS) serta Iran. Lalu bagaimana update-nya? Berikut rangkuman CNBC Indonesia, Selasa (30/1/2024).

Data Korban Gaza Terbaru

Kementerian Kesehatan di Gaza mengatakan pada Selasa, setidaknya 26.751 orang tewas di wilayah Palestina selama perang antara militan dan Israel. Sebuah pernyataan kementerian mengatakan 65.636 orang lainnya terluka sejak 7 Oktober ketika perang pecah.

Proposal Gencatan Senjata Hamas-Israel

Proposal gencatan senjata baru di Gaza, di-update Qatar. Negara ini diketahui merupakan mediator Hamas dan Israel. Dalam laporan AFP, Qatar menyebut sebuah kerangka kerja untuk menghentikan pertempuran di Gaza telah dimuat. Pembebasan sandera juga akan disampaikan ke Hamas.

“Kemajuan baik telah dicapai dan para pihak,” kata Perdana Menteri (PM) Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, yang menghadiri pembicaraan tersebut.

“Berharap untuk menyampaikan proposal ini kepada Hamas dan membawa mereka ke tempat di mana mereka terlibat secara positif dan konstruktif dalam perdamaian. proses,” tambahnya.

Ia menjelaskan gencatan senjata mencakup gencatan senjata bertahap yang akan membuat sandera perempuan dan anak-anak dibebaskan terlebih dahulu. Lalu bantuan juga memasuki Gaza yang terkepung. Seorang pejabat senior Hamas, Taher al-Nunu, mengatakan pihaknya menginginkan gencatan senjata yang lengkap dan komprehensif. Bukan gencatan senjata sementara.

Ramai-Ramai Negara Serang Lembaga PBB di Gaza

Ramai-ramai negara Barat menyerang lembaga PBB di Gaza, UNRWA. Beberapa negara seperti AS, Australia, Inggris, Jepang dan Jerman telah menangguhkan pendanaan untuk lembaga itu.

Terbaru, Selandia Baru bergabung dengan daftar negara-negara yang telah menangguhkan pendanaan. Sebelumnya Israel menuduh beberapa staf ikut serta dalam serangan Hamas pada 7 Oktober, dan menyebabkan AS cs bereaksi cepat.

Perdana Menteri (PM) Christopher Luxon mengatakan telah menghentikan pendanaan sampai tuduhan tersebut diselidiki. Ia mengatakan tuduhan itu sangat serius.

“Selandia Baru tidak akan memberikan kontribusi lebih lanjut kepada UNRWA sampai Menteri Luar Negeri Winston Peters mengatakan hal itu baik untuk dilakukan.”

Selandia Baru telah memberikan dana tahunan kepada UNRWA sekitar NZ$1 juta. Diketahui Uni Eropa (UE) juga menuntut audit “mendesak” terhadap badan pengungsi Palestina PBB itu. Rusia Ngamuk Di sisi lain, Rusia mengutuk keputusan beberapa negara untuk menangguhkan pendanaan mereka di badan pengungsi Palestina PBB, UNRWA.

Negeri Presiden Vladimir Putin malah menyebutnya sebagai bentuk “hukuman kolektif”.

“Apa yang telah dan sedang terjadi adalah hukuman kolektif, yang dilarang oleh hukum humaniter internasional,” kata Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov, dikutip AFP.

“Investigasi terhadap tuduhan staf UNRWA terlibat dalam serangan 7 Oktober tidak boleh digantikan dengan hukuman kolektif terhadap badan tersebut dan masyarakat Gaza,” tambahnya.

“Jika penyelidikan itu dilaksanakan, maka faktanya akan terungkap,” jelasnya.

“Tetapi jika penyelidikan digantikan dengan hukuman kolektif terhadap UNRWA dan, yang paling penting, mereka yang menerima bantuan berharga dari PBB, maka saya pikir itu adalah keputusan yang salah,” ujarnya.

UNRWA telah memecat beberapa pegawainya sejak tuduhan dilontarkan Israel. Badan itu berjanji akan melakukan penyelidikan menyeluruh atas klaim tersebut.

Sebelumnya serangan Hamas terhadap Israel terjadi tanggal 7 Oktober. Ini mengakibatkan kematian sekitar 1.140 orang, di mana Hamas menyandera sekitar 250 orang.

Hamas menyebut ini sebagai balasan dari penyerbuan Israel ke Masjidil Aqsa awal 2023. Belum lagi pendudukan di wilayah Palestina.

Israel Curi Mayat di Gaza

Israel mengembalikan sejumlah mayat ke warga Gaza. Jenazah-jenazah tersebut dibungkus dalam plastik biru, dan diturunkan ke truk menuju kuburan massal yang baru digali di timur Rafah.

Sebuah sumber Palestina di perbatasan Rafah dengan Mesir mengatakan jenazah yang dikembalikan sebelumnya telah dicuri oleh tentara (Israel) selama serangannya ke Gaza.

“Israel mencurinya dari pemakaman Bani Suheila, sebelah timur Khan Yunis sekitar dua minggu lalu,” kata seorang sumber AFP. Militer Israel tidak menanggapi permintaan komentar. Namun sebelumnya, tentara telah membuat pernyataan tentang penggalian jenazah dari kuburan Gaza untuk mencari sandera Israel.

“Proses identifikasi sandera, yang dilakukan di lokasi yang aman dan alternatif, memastikan kondisi profesional yang optimal dan rasa hormat terhadap almarhum,” kata militer Senin.

Pernyataan Baru Netanyahu

Sementara itu, PM Israel Benjamin Netanyahu pada hari Selasa mengesampingkan pembebasan “ribuan” tahanan Palestina. Padahal ini bagian dari kesepakatan untuk menghentikan pertempuran di Gaza.

“Saya ingin memperjelas… Kami tidak akan menarik (tentara) IDF dari Jalur Gaza dan kami tidak akan melepaskan ribuan teroris,” katanya.

“Semua ini tidak akan terjadi,” katanya dalam pidatonya terbarunya.

Hamas Bangkit di Gaza

Hamas dilaporkan telah kembali ke Gaza utara. Menurut keterangan banyak pihak, kelompok Palestina tersebut tengah melakukan mobilisasi melawan pasukan Israel dan membangun kembali sistem pemerintahan di sana.

Mengutip The Guardian, kebangkitan Hamas di wilayah yang direbut dan dibersihkan oleh pasukan Israel selama serangan hampir empat bulan. Ini pun menggarisbawahi kesulitan yang dihadapi Benjamin Netanyahu dalam memenuhi janjinya untuk “menghancurkan” kelompok militan tersebut.

Michael Milstein dari Institut Studi Keamanan Nasional, sebuah lembaga pemikir yang berbasis di Tel Aviv, mengatakan Hamas telah mendapatkan kembali kendali di beberapa bagian Gaza yang direbut Israel. Ini mencakup sebagian besar wilayah utara yang hancur, termasuk kamp Shaati, kamp pengungsi Jabaliya, Shejaiya, dan Kota Gaza.

“Hamas menguasai wilayah ini. Tidak ada kekacauan atau kekosongan karena para pekerja di kota Gaza atau pasukan pertahanan penyelamat sipil, yang secara efektif merupakan bagian dari Hamas,lah yang menegakkan ketertiban umum. Hamas masih ada. Hamas masih bertahan,” kata Milstein.

“Versi IDF adalah bahwa di bagian utara Gaza, struktur dasar militer Hamas telah dilanggar… Itu hanya dapat dilakukan dengan tentara konvensional tetapi tidak untuk operasi gerilya yang fleksibel seperti Hamas. Kami sudah melihat individu sebagai penembak jitu, memasang jebakan dan sebagainya,” jelasnya.

Artikel Selanjutnya: Hamas-Israel Rusuh, PBB Sebut Timur Tengah Mau Masuk ‘Jurang’

(sef/sef)