Mengapa Media Asing Memperhatikan Anies Baswedan dalam Pemilihan Presiden Indonesia?

by -43 Views
Mengapa Media Asing Memperhatikan Anies Baswedan dalam Pemilihan Presiden Indonesia?

Calon presiden (capres) nomor urut 1, Anies Baswedan, kembali menjadi sorotan media asing. Kali ini, mantan Gubernur Jakarta ini disorot karena cara kampanyenya yang mulai menggaet suara generasi muda Indonesia.

Media berbasis di Singapura, Channel News Asia (CNA), membahas hal ini melalui artikel berjudul ‘Playing to his strengths, former academic Anies Baswedan woos the youth vote as he contests Indonesia’s presidency’ yang diterbitkan Minggu (31/12/2023).

Dalam artikel tersebut, CNA membahas acara “Desak Anies”, di mana pemilih muda dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan menarik serta kritik kepada Anies.

Dalam sebuah sesi dialog Desak Anies, CNA menyoroti bagaimana seorang mahasiswa Universitas Hazairin di Provinsi Bengkulu, menantang Anies dengan pertanyaan-pertanyaan yang pedas. Bahkan terkadang menghujannya dengan pertanyaan-pertanyaan lanjutan.

Salah satu isu utama yang diangkat adalah sikap Anies terhadap rencana Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara. Dijelaskan pula bagaimana IKN menjadi kebijakan milik Presiden Joko Widodo (Jokowi), namun tidak disetujui oleh Anies.

“Mahasiswa juga menginterogasi Pak Anies tentang kemiskinan dan korupsi di Indonesia. Saat ia menjawab pertanyaan, meluangkan waktu untuk membongkar topik dan memberikan penjelasan rinci, kandidat tersebut tampak alami dalam berurusan dengan kaum muda,” demikian laporan CNA.

“Bagaimanapun, ia adalah seorang akademisi yang kemudian menjadi rektor universitas yang membuatnya menghabiskan waktu bertahun-tahun berinteraksi dengan kaum muda, yang ia tempatkan sebagai inti strategi kampanyenya dalam pemilihan presiden tahun depan.”

Setelah sesi tersebut, Anies mengatakan bahwa dia yakin seorang pemimpin tidak boleh takut dikritik. Ia mengatakan dialog adalah cara terbaik untuk memahami satu sama lain, terutama para pemuda.

“Saya tidak pernah memandang mereka yang terlibat dalam dialog kritis sebagai musuh. Mereka adalah sahabat, orang-orang yang juga peduli dengan Indonesia,” kata Anies saat itu.

Sebenarnya, dalam artikelnya, CNA menjelaskan bagaimana pengalaman Anies yang mantan akademisi mempengaruhinya. Ia sempat ditunjuk sebagai rektor Universitas Paramadina tahun 2007 dalam usia 38 tahun, kemudian mendirikan gerakan “Indonesia Mengajar”.

“Mempermainkan citranya sebagai seorang intelektual dan ulama juga tampaknya menjadi bagian penting dari strategi kampanyenya, dibandingkan dengan dua pesaingnya lainnya,” tulis CNA lagi.

Anies, yang mencalonkan diri sebagai presiden kedelapan Indonesia, berpasangan dengan calon wakil presiden Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, ketua Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang berhaluan Islam. Pemilu Presiden (pilpres) sendiri akan digelar 14 Februari.