Siswi Kelas 12 Berdayakan 126 Perajin dan Jaga Gambut

by -59 Views

Tanaman purun (Lepironia articulata) yang tumbuh alami di lahan basah Kalimantan Selatan kini dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi oleh Gaia Weave. Inisiatif yang digagas Alexandra Christy Untono, siswi kelas 12 ACS Jakarta, itu menghubungkan pelestarian gambut dengan peningkatan pendapatan masyarakat desa.

Purun telah lama digunakan masyarakat Kalimantan Selatan sebagai bahan anyaman. Namun, selama bertahun-tahun, produk berbahan purun lebih banyak dipasarkan sebagai kerajinan tradisional dengan nilai tambah dan akses pasar yang terbatas. Gaia Weave kemudian mengembangkan material tersebut menjadi barang fungsional untuk kebutuhan perkotaan, seperti tech organizer, document pouch, tas, aksesori, serta merchandise korporasi.

Memberi nilai ekonomi pada lahan basah

Pengembangan itu berangkat dari gagasan bahwa perlindungan lingkungan perlu berjalan bersama manfaat ekonomi yang nyata. Purun tumbuh di lingkungan basah, sementara lahan gambut yang tetap lembap memiliki risiko kebakaran lebih rendah dibandingkan gambut yang mengering. Kondisi tersebut menjadi penting di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan yang berulang di kawasan gambut Kalimantan Selatan.

“Purun tumbuh subur di lingkungan yang basah dan dengan menciptakan nilai ekonomi dari purun, kami ingin membangun insentif nyata agar masyarakat melihat nilai perlindungan dari ekosistem tempat tanaman ini tumbuh,” tutur Alexandra dalam keterangan resmi, Jumat (2/10/2026).

Untuk memperluas nilai purun, Gaia Weave menerapkan desain, standardisasi mutu, dan fungsi yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Pendekatan tersebut membuka peluang bagi keterampilan menganyam yang dimiliki masyarakat desa untuk masuk ke pasar yang lebih luas.

Pendapatan perajin meningkat

Saat ini, Gaia Weave telah bermitra dengan 126 perajin perempuan yang tersebar di 15 desa di Kalimantan Selatan. Kemitraan tersebut berdampak pada pendapatan sebagian besar perajin, yang meningkat sekitar 100 hingga 150 persen. Penghasilan mereka naik dari kisaran Rp1 juta-Rp1,5 juta menjadi sekitar Rp2,7 juta-Rp3 juta per bulan.

Salah satu perajin, Ibu Idang, sebelumnya mengandalkan pekerjaan tani musiman dengan pendapatan sekitar Rp40.000-Rp50.000 per hari. Setelah bekerja di sawah, ia menganyam purun di rumah dan memperoleh tambahan penghasilan sekitar Rp80.000-Rp100.000 per hari.

“Setelah pulang dari sawah, saya lanjutkan menganyam di rumah. Keterampilan yang sudah kami miliki sekarang menjadi tambahan penghasilan nyata, dan anyaman kami digunakan oleh banyak orang,” tutur Ibu Idang.

Bagi Gaia Weave, manfaat ekonomi itu merupakan bagian dari upaya membangun insentif agar masyarakat mempertahankan lanskap lahan basah tempat purun tumbuh. Alexandra menilai ekonomi sirkular tidak cukup hanya dengan memakai material yang ramah lingkungan atau mudah terurai.

“Fondasi terpentingnya adalah memastikan orang-orang di sepanjang rantai pasok, terutama para perajin di desa, mendapatkan manfaat ekonomi yang adil,” tegasnya.

Target perluasan hingga 2030

Pengalaman Alexandra dalam sejumlah proyek keberlanjutan, termasuk riset pemetaan rumput laut bersama Birufinery di Nusa Tenggara Timur dan jaringan daur ulang EcoFunCycle, turut membentuk pendekatannya dalam mengembangkan Gaia Weave.

Hingga 2030, Gaia Weave menargetkan jejaring lebih dari 1.000 perajin di Kalimantan Selatan. Perusahaan juga berencana memperluas pasar ekspor dan kemitraan dengan sektor perhotelan premium, serta menyiapkan sistem ketertelusuran berbasis QR agar konsumen dapat mengetahui asal material dan perjalanan produk.

Source link