Benarkah Air Hujan Bikin Pusing? Simak Fakta Medisnya

by -73 Views

Rasa pusing atau kepala berdenyut setelah kehujanan kerap dianggap sebagai akibat air hujan yang mengenai kepala. Anggapan itu tidak sepenuhnya tepat. Air hujan bukan penyebab langsung sakit kepala, tetapi perubahan lingkungan yang menyertai hujan dapat memicu keluhan tersebut, terutama pada orang yang sensitif terhadap cuaca atau memiliki riwayat migrain.

Perubahan tekanan udara dapat memicu migrain

Salah satu faktor yang berperan adalah tekanan barometrik atau tekanan udara. Menjelang hujan maupun badai, tekanan udara dapat berubah. American Migraine Foundation menyebut perubahan tekanan barometrik sebagai salah satu faktor lingkungan yang berpotensi memicu migrain pada orang tertentu.

Perubahan itu dapat memengaruhi kondisi di sekitar tubuh dan memicu gejala pada orang yang memang memiliki sensitivitas terhadap cuaca. Mayo Clinic juga mencatat bahwa perubahan cuaca dan tekanan barometrik dapat menjadi pemicu migrain pada sebagian orang.

Selain tekanan udara, sejumlah kondisi lain yang berkaitan dengan cuaca juga dapat berpengaruh. Suhu yang terlalu panas atau dingin, kelembapan tinggi, udara kering, angin kencang, serta badai termasuk faktor yang disebut dapat memicu migrain. Karena itu, respons tubuh terhadap hujan tidak selalu sama. Sebagian orang mungkin tidak merasakan keluhan apa pun, sementara penderita migrain dapat lebih peka terhadap perubahan tersebut.

Dehidrasi dan kelelahan juga bisa berperan

Hujan biasanya disertai penurunan suhu dan peningkatan kelembapan. Setelah kehujanan, pakaian yang basah dan tubuh yang mendadak terasa dingin dapat menimbulkan rasa tidak nyaman. Bila kondisi itu terjadi bersamaan dengan kurang minum, belum makan, kelelahan, atau kurang tidur, sakit kepala bisa lebih mudah muncul.

NHS mencatat dehidrasi, stres, flu, dan pola makan yang tidak teratur sebagai beberapa penyebab umum sakit kepala. Dengan kata lain, hujan bisa saja hanya bertepatan dengan rangkaian kondisi yang memicu keluhan, bukan menjadi penyebab langsungnya.

Untuk mengurangi kemungkinan sakit kepala ketika cuaca berubah, seseorang dapat memastikan kebutuhan cairan tubuh terpenuhi, makan secara teratur, dan tidur cukup. Orang yang sering mengalami migrain juga dapat membuat catatan mengenai waktu munculnya sakit kepala, kondisi cuaca, makanan atau minuman yang dikonsumsi, waktu tidur, serta aktivitas yang dilakukan.

Menurut Mayo Clinic, pencatatan semacam itu dapat membantu mengidentifikasi pola pemicu migrain yang mungkin tidak disadari sebelumnya. Catatan tersebut juga dapat memberikan gambaran mengenai hubungan antara keluhan dan perubahan cuaca.

Waspadai sakit kepala yang muncul tiba-tiba

Sakit kepala yang mendadak dan sangat berat perlu mendapat perhatian lebih. Pertolongan medis segera diperlukan bila keluhan disertai kelemahan atau mati rasa, gangguan penglihatan, kesulitan berbicara, kebingungan, kejang, demam tinggi, atau leher kaku.

Jadi, air hujan tidak secara langsung membuat kepala pusing. Keluhan yang muncul setelah hujan lebih mungkin berkaitan dengan perubahan tekanan udara, suhu, kelembapan, serta kondisi tubuh seperti dehidrasi, lapar, kelelahan, atau kurang tidur. Pengaruhnya terutama dirasakan oleh orang yang sensitif terhadap perubahan cuaca atau memiliki migrain.

Source link