7 Alasan Memilih Bike to Work untuk Berangkat Kerja

by -68 Views

Sepeda mulai menempati ruang yang lebih luas dalam mobilitas perkotaan. Kendaraan yang sebelumnya identik dengan olahraga dan kegiatan akhir pekan itu kini digunakan sebagian pekerja untuk menempuh perjalanan dari rumah ke kantor melalui konsep bike to work (B2W).

Perkembangan tersebut masih terlihat pada 2026. Komunitas Bike to Work (B2W) Indonesia terus mengampanyekan sepeda sebagai moda transportasi harian. Dalam peringatan Hari Sepeda Sedunia 2026, komunitas itu menggelar kegiatan bersepeda sekaligus mendorong pemanfaatan sepeda sebagai alternatif perjalanan di kota.

Dari aktivitas fisik hingga pilihan yang lebih hemat

Salah satu alasan pekerja memilih bersepeda adalah kesempatan untuk tetap aktif selama perjalanan. Bersepeda membuat perjalanan menuju kantor sekaligus menjadi aktivitas fisik, sehingga olahraga tidak selalu harus dilakukan secara terpisah.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut berjalan kaki dan bersepeda sebagai bentuk active mobility yang dapat memberikan manfaat bagi kesehatan, lingkungan, ekonomi, dan kehidupan sosial. Penelitian mengenai tren pesepeda di DKI Jakarta yang diterbitkan dalam Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota pada 2025 juga menemukan bahwa kesehatan fisik dan mental menjadi salah satu motif utama pekerja menggunakan sepeda ke tempat kerja.

Bersepeda juga dapat menjadi pilihan untuk menghadapi kemacetan, terutama pada jarak yang masih memungkinkan ditempuh dengan mengayuh. Pengguna tidak harus meninggalkan transportasi umum sepenuhnya. Sepeda dapat dipakai untuk menjangkau bagian awal atau akhir perjalanan, lalu dilanjutkan dengan moda transportasi lain.

Karena itu, konektivitas menjadi salah satu isu penting dalam pengembangan B2W. Pada Agustus 2026, B2W Indonesia mendorong agar jalur sepeda terhubung dengan kawasan permukiman, pusat bisnis, dan stasiun transit.

Faktor biaya turut memengaruhi keputusan tersebut. Sepeda tidak memerlukan bahan bakar, sementara pengeluaran rutinnya terutama berkaitan dengan perawatan, penggantian komponen yang aus, dan perlengkapan keselamatan. Namun, tingkat penghematan tetap bergantung pada jarak rumah-kantor, kondisi jalan, kebutuhan membawa barang, serta fasilitas pendukung. Karena itu, bersepeda tidak harus dilakukan setiap hari; sebagian pekerja dapat memilih hari tertentu dan menggunakan moda lain pada kesempatan berbeda.

Gaya hidup dan ruang bersosialisasi

Bagi sebagian orang, B2W telah berkembang menjadi bagian dari gaya hidup dan budaya komunitas. B2W Indonesia pada 2026 mengaitkan kampanye bersepeda dengan isu lingkungan, kualitas udara, dan kebutuhan akan ruang jalan yang aman.

Perjalanan menuju kantor juga dapat menjadi kesempatan untuk bertemu sesama pesepeda. Sebagian pengguna berangkat bersama komunitas, berkumpul di titik tertentu sebelum bekerja, atau mengikuti kegiatan bersepeda setelah jam kantor. Skena sepeda pun mencakup beragam kelompok, mulai dari pengguna road bike, MTB, sepeda lipat, hingga fixie dan komunitas yang berfokus pada transportasi harian.

Aktivitas ini juga menawarkan cara untuk mengurangi waktu duduk. Pekerjaan kantoran sering membuat seseorang berada dalam posisi duduk selama berjam-jam. WHO mencatat aktivitas fisik rutin membantu menjaga kesehatan dan menurunkan risiko sejumlah penyakit tidak menular, sedangkan perilaku sedentari berlebihan berkaitan dengan berbagai dampak kesehatan.

Pengalaman perjalanan dan tantangan keamanan

Selain manfaat fisik, sebagian pesepeda merasakan kepuasan tersendiri ketika tiba di kantor dengan sepeda. Mereka dapat menikmati suasana jalan, melihat lingkungan sekitar lebih dekat, serta memiliki waktu sebelum dan sesudah bekerja untuk berjarak dari rutinitas. Dalam policy brief 2026, WHO menyebut mobilitas aktif berpotensi mendukung kesehatan mental dan kesejahteraan, selain manfaat fisik dan lingkungan.

Manfaat itu akan lebih optimal jika perjalanan berlangsung aman. WHO menekankan pentingnya infrastruktur yang mendukung kegiatan berjalan kaki dan bersepeda agar masyarakat dapat memilih mobilitas aktif tanpa menghadapi risiko jalan raya yang tidak perlu.

Perkembangan teknologi dan media sosial turut memperluas skena bersepeda. Pada 2026, misalnya, muncul kegiatan seperti Strava Art yang memadukan perjalanan bersepeda dengan kreativitas digital. Sepeda pun tidak lagi dipandang hanya dari kecepatan atau jarak tempuh, tetapi juga dari pengalaman, komunitas, dan cara seseorang menikmati perjalanan sehari-hari.

Source link