Makan Mi Instan Setiap Hari, Amankah? Ini Kata Dokter

by -70 Views

Mi instan boleh dikonsumsi sesekali, tetapi tidak dianjurkan menjadi menu harian. Dokter spesialis gizi klinik Universitas Indonesia, Juwalita Surapsari, mengingatkan bahwa kebiasaan tersebut perlu dihindari karena kandungan natrium dan zat gizi mi instan harus diperhitungkan bersama makanan lain yang disantap dalam sehari.

“Kita boleh-boleh saja mengonsumsi produk ini namun tidak setiap hari dan harus memperhitungkan makanan lainnya,” kata Juwalita kepada ANTARA.

Natrium menjadi perhatian utama

Ahli gizi sekaligus anggota Asosiasi Dietisien Indonesia (AsDI), Diah Maunah, menyebut mi instan pada umumnya mengandung natrium, lemak, dan energi dalam jumlah yang cukup tinggi. Dalam keterangan kepada ANTARA pada Februari 2026, Diah mengatakan mi instan rebus umumnya memiliki kandungan natrium lebih dari 1.000 miligram per bungkus.

Jumlah tersebut sudah mengambil porsi besar dari batas asupan natrium harian. Jika dikonsumsi terus-menerus dalam jumlah tinggi, natrium perlu menjadi perhatian, terutama bagi orang yang memiliki tekanan darah tinggi atau kondisi tertentu yang sensitif terhadap natrium.

Juwalita juga mengingatkan agar mi instan tidak dikonsumsi bersamaan dengan makanan olahan lain yang cenderung tinggi garam, seperti sosis dan bakso. Konsumen perlu melihat kembali makanan yang sudah disantap pada hari yang sama, termasuk kandungan garam dalam produk-produk tersebut.

Selain persoalan natrium, mi instan tidak dapat dijadikan satu-satunya sumber makanan. Kandungan serat, vitamin, mineral, dan protein di dalamnya relatif terbatas sehingga belum mencukupi kebutuhan gizi dari satu kali makan, apalagi jika dikonsumsi berulang sebagai menu utama.

Perhitungkan sebagai sumber karbohidrat

Kepala Instalasi Gizi dan Produksi Makanan RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo, Fitri Hudayani, menjelaskan bahwa mi instan tetap termasuk kelompok makanan pokok, bersama nasi, roti, bihun, umbi-umbian, dan sereal.

Menurut Fitri, satu bungkus mi instan tanpa minyak memiliki nilai gizi yang kurang lebih setara dengan 150 gram nasi. Karena itu, konsumsi mi instan perlu diperhitungkan sebagai bagian dari asupan makanan pokok. Menambahkan nasi atau sumber karbohidrat lain dalam porsi berlebihan dapat meningkatkan asupan energi dan karbohidrat.

Dengan pertimbangan tersebut, persoalannya bukan semata-mata apakah mi instan boleh dimakan, melainkan bagaimana makanan itu ditempatkan dalam pola makan secara keseluruhan.

Cara membuat mi instan lebih seimbang

Jika ingin mengonsumsi mi instan, masyarakat disarankan tidak menjadikannya satu-satunya komponen dalam satu kali makan. Sayuran seperti sawi, bayam, wortel, atau brokoli dapat ditambahkan untuk meningkatkan asupan serat, vitamin, dan mineral.

Sumber protein juga dapat melengkapi hidangan, misalnya telur, tahu, tempe, atau bahan pangan berprotein lainnya. Dokter spesialis gizi klinik dan anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia (PDGKI), dr. Luciana Sutanto, turut menyarankan agar jumlah bumbu yang digunakan diperhatikan.

“Jika bumbu yang dimasukkan jumlah atau kadarnya berlebihan … tentu akan menimbulkan masalah kesehatan,” kata Luciana kepada ANTARA.

Luciana menganjurkan mi dimasak sesuai petunjuk pada kemasan, kemudian dilengkapi sayuran dan sumber protein. Label kandungan gizi pada kemasan juga perlu dicermati. Apabila dalam satu hari seseorang sudah mengonsumsi makanan tinggi garam, tambahan makanan tinggi natrium sebaiknya dibatasi.

Source link