Wall Street Bervariasi Saat Imbal Hasil Obligasi AS Melonjak

by -70 Views

Wall Street menutup perdagangan Jumat, 18 September 2026, dengan pergerakan yang beragam. Dow Jones tertekan setelah pasar menghadapi pekan yang bergejolak, sementara investor mencermati kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat dan harga minyak yang masih berada di atas US$100 per barel. Pelaku pasar juga menimbang keputusan Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam tiga tahun.

Dow Jones Melemah, Nasdaq Menguat

Mengutip CNBC, Sabtu (19/9/2026), Dow Jones Industrial Average turun 95,40 poin atau 0,18 persen ke level 51.682,64. Penurunan tersebut membuat indeks berisi saham-saham unggulan itu mencatatkan pelemahan mingguan untuk ketiga kalinya secara berturut-turut.

Berbeda dari Dow Jones, indeks S&P 500 naik 0,17 persen dan ditutup pada posisi 7.650,50. Nasdaq juga menguat 0,39 persen menjadi 26.522,55. Kenaikan Nasdaq ditopang oleh pergerakan saham-saham teknologi yang menjadi komponen dominan indeks tersebut.

Secara mingguan, Dow Jones turun 1,7 persen, sekaligus menjadi kinerja terburuknya sejak Maret. S&P 500 melemah sekitar 0,1 persen. Nasdaq menjadi satu-satunya indeks utama yang mencatat kenaikan dalam sepekan, yakni sebesar 0,7 persen.

Yield Treasury Kembali Menembus 5 Persen

Kenaikan imbal hasil Treasury menjadi salah satu perhatian utama pasar saham pada akhir pekan. Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun kembali bergerak di atas ambang 5 persen setelah sempat turun pada Kamis.

Pada perdagangan terakhir, yield tersebut naik hampir 6 basis poin menjadi 5,006 persen. Sebelumnya, imbal hasil surat utang tenor 10 tahun itu sempat menembus 5 persen dan mencapai level tertinggi sejak Juli 2007 pada awal pekan.

Pergerakan yield menjadi tekanan bagi pasar saham karena investor juga menyesuaikan diri dengan perubahan kebijakan moneter The Fed. Bank sentral AS menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, sehingga keputusan tersebut turut menjadi bagian dari pertimbangan pelaku pasar sepanjang pekan.

Harga Minyak Bertahan di Atas US$100

Pasar energi juga menjadi faktor yang diperhatikan investor. Harga minyak mentah Amerika Serikat mengakhiri perdagangan Jumat dengan perubahan terbatas secara keseluruhan, tetapi tetap bertahan di atas US$100 per barel.

Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 1,58 persen dan menetap di harga US$100,30 per barel. Sementara itu, kontrak berjangka Brent, yang menjadi acuan harga minyak global, turun 0,91 persen ke posisi US$103,87 per barel.

Pergerakan minyak, kenaikan yield Treasury, serta keputusan suku bunga The Fed membentuk latar perdagangan yang menekan Dow Jones, meski saham-saham teknologi membantu Nasdaq dan S&P 500 berakhir di zona positif pada Jumat.

Source link