Seorang pekerja logistik asal Korea Selatan mengaku kehilangan 60 juta won atau sekitar Rp770,5 juta setelah mengikuti skema investasi yang bermula dari grup obrolan daring. Pria berusia 47 tahun itu hanya bersedia disebut dengan nama Inggrisnya, Jay, karena keluarganya belum mengetahui uang yang hilang tersebut.
Jay mengatakan dirinya terjebak dalam modus serupa pada Februari. Perkenalannya dengan grup itu bermula dari sebuah video di TikTok yang ia yakini diunggah oleh direktur sebuah perusahaan sekuritas ternama. Dari video tersebut, ia kemudian bergabung dengan grup obrolan di Naver, platform daring asal Korea Selatan.
Dari ulasan saham ke ajakan berinvestasi
Menurut Jay, pembicaraan awal dalam grup berfokus pada kondisi pasar dan pilihan investasi. Para anggota banyak menyarankan agar uang tidak ditempatkan di sektor properti, melainkan dialihkan ke saham.
“Saat itu, banyak pembicaraan yang menyarankan agar tidak menanamkan uang di sektor properti, melainkan di saham,” ujar Jay.
Ia mengaku ikut terbawa suasana yang berkembang di dalam grup tersebut. “Sentimen itu begitu kuat, dan saya pun ikut terbawa arus tanpa menyadarinya,” katanya.
Seiring waktu, percakapan tidak lagi terbatas pada ulasan pasar. Anggota grup mulai membicarakan keuntungan besar dari investasi yang nilainya mencapai ratusan ribu hingga jutaan won. Investasi itu disebut dilakukan melalui staf perusahaan yang dikaitkan dengan grup tersebut.
Informasi dan suasana percakapan itu kemudian mendorong Jay mengambil keputusan untuk meminjam uang. Ia menanamkan 20 juta won, yang setara dengan sekitar Rp256,8 juta, dalam investasi tersebut.
Diarahkan pada peluang di sektor konstruksi
Setelah pembahasan mengenai saham dan keuntungan investasi berkembang, grup itu mengarahkan perhatian anggotanya pada apa yang disebut sebagai peluang langka. Peluang tersebut dikaitkan dengan sebuah perusahaan konstruksi.
Perusahaan itu disebut berpotensi memperoleh keuntungan dari kemungkinan adanya rekonstruksi pascaperang di Iran. Klaim mengenai peluang tersebut menjadi bagian dari rangkaian pembicaraan yang diikuti Jay sebelum akhirnya kehilangan dana.
Jay tidak menjelaskan secara rinci dalam keterangan yang tersedia mengenai bagaimana seluruh dana hingga mencapai 60 juta won dapat hilang. Namun, ia menyebut pengalaman tersebut sebagai modus serupa yang membuatnya terjebak setelah mengikuti ajakan investasi dari grup obrolan daring.
Kasus yang dialami Jay memperlihatkan bagaimana percakapan yang semula tampak seperti diskusi pasar dapat berkembang menjadi promosi investasi melalui pihak yang disebut sebagai staf perusahaan. Dalam kasus ini, ia tertarik setelah melihat kombinasi rekomendasi saham, pembicaraan mengenai keuntungan besar, serta peluang khusus yang dikaitkan dengan sektor konstruksi dan rekonstruksi Iran.





