Negara di Ambang Perang: Evakuasi Presiden Dalam Kendaraan Lapis Baja

by -54 Views

Presiden Taiwan Dievakuasi dengan Kendaraan Lapis Baja

Jakarta, CNBC Indonesia – Presiden Taiwan, Lai Ching-te, melakukan perjalanan larut malam menggunakan kendaraan pengangkut personel lapis baja menuju pusat komando militer. Evakuasi darurat ini merupakan bagian dari latihan perang tahunan Han Kuang selama 10 hari yang resmi dimulai pada hari Rabu.

Mengutip Reuters, Kamis (06/08/2026), latihan tempur ini dirancang khusus untuk memperkuat persiapan Taiwan jika China benar-benar mewujudkan ancamannya. Beijing yang memandang pulau demokratis tersebut sebagai wilayahnya berulang kali bersumpah akan merebut Taiwan dengan paksa jika diperlukan.

Partisipasi Presiden Taiwan dalam Latihan Perang

Kantor kepresidenan pada hari Kamis merilis potret yang memperlihatkan Lai mengenakan pelindung tubuh dan helm militer saat memasuki bagian belakang kendaraan lapis baja. Juru bicara kepresidenan, Karen Kuo, menjelaskan bahwa Lai beserta timnya sedang melakukan simulasi komando operasi pertahanan negara.

Manuver ini menandai partisipasi perdana Lai sebagai presiden sejak menjabat pada tahun 2024 dalam skenario yang disebut pemerintah sebagai rencana “Wan Chun” atau beban yang sangat besar. Rencana evakuasi darurat pemimpin Taiwan ke tempat aman ini telah ada sejak era Perang Dingin.

Latihan Militer dan Kecanggihan Peralatan Taiwan

Latihan Han Kuang kali ini melibatkan pasukan dan peralatan militer yang disebar ke seluruh wilayah Taiwan untuk menguji sistem serta taktik baru. Pada hari Kamis, Lai turut memantau langsung pemasangan peluncur rudal di kapal penjaga pantai kelas Anping dan sistem rudal Tien-Kung III buatan dalam negeri di Taipei.

Kementerian Pertahanan Taiwan menyatakan bahwa latihan besar-besaran ini bertujuan untuk mempertajam respons unit di lingkungan pertempuran yang realistis, termasuk operasi anti-blokade, serangan pesisir, dan dukungan seluruh lapisan masyarakat untuk menghadapi konflik.

China, yang secara konsisten menolak tawaran perundingan dari Taiwan, terus beroperasi dekat pulau tersebut tanpa memberikan komentar resmi mengenai latihan perang yang berlangsung. Meskipun demikian, Taiwan tetap teguh bahwa hanya rakyatnya yang berhak menentukan masa depan wilayah.

(tps/luc)

Source link