PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) berhasil mencatat kontrak baru senilai Rp 17,46 triliun pada tahun 2026, yang turut berkontribusi pada total kontrak berjalan sebesar Rp 50,52 triliun hingga akhir 2025. Hal ini disampaikan dalam laporan Keterbukaan Informasi BEI pada Jumat (3/4/2026), di mana Perseroan mencatat penjualan mencapai Rp 20,45 triliun. Penjualan tersebut terdiri dari Penjualan non Kerja Sama Operasi (KSO) senilai Rp 13,33 triliun dan Penjualan KSO sebesar Rp 7,12 triliun, dengan laba kotor sebesar Rp 1,13 triliun.
Corporate Secretary WIKA, Ngatemin (Emin), menyatakan bahwa Gross Profit Margin (GPM) Perseroan meningkat dari 7,9% di tahun 2024 menjadi 8,5% di tahun 2025. Peningkatan tersebut didorong oleh core business Perseroan, yaitu infrastruktur & gedung dan EPCC. WIKA juga berhasil mencatat EBITDA operasi positif sebesar Rp 426,52 miliar, mencerminkan kinerja operasi yang semakin baik di tengah proses restrukturisasi.
Sementara itu, Perseroan terus melakukan upaya perbaikan struktur keuangan dengan berhasil menurunkan utang usaha sebesar Rp 1,79 triliun dan utang berbunga sebesar Rp 2,08 triliun, mengalami penurunan masing-masing 29,5% dan 5,9% dari tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan kemampuan WIKA dalam mengelola proyek secara unggul dan berkelanjutan, serta komitmennya untuk terus menurunkan kewajiban dan menjaga keseimbangan arus kas di tengah tantangan industri yang ada.





