Volatilitas global yang disebabkan oleh konflik Iran mulai mempengaruhi pasar penawaran umum perdana (IPO) di India. Pasar IPO India, yang biasanya sibuk, mengalami tekanan akibat turunnya minat investor dalam situasi gejolak geopolitik di Timur Tengah. Indeks acuan India turun lebih dari 12% sejak Januari, dengan penurunan tajam dalam beberapa minggu terakhir karena konflik Iran berdampak pada pasokan energi dan perdagangan.
Keputusan PhonePe untuk menghentikan rencana pencatatan saham menunjukkan tekanan yang semakin meningkat di pasar. Investor institusional asing telah menjual saham senilai lebih dari USD 8 miliar selama bulan ini. Peluang IPO untuk valuasi premium semakin terbatas karena kondisi pasar yang tidak pasti.
Beberapa perusahaan teknologi dan konsumen India, seperti PhonePe, Zepto, Flipkart, dan Oyo, menunda rencana IPO mereka. CEO Anand Rathi Advisors, Samir Bahl, menyebut penundaan ini disebabkan oleh ketidaksesuaian valuasi dengan kondisi pasar yang sedang terjadi. Zepto dan Oyo sebelumnya mengajukan IPO secara rahasia dengan target menghimpun lebih dari USD 1,2 miliar.
Zepto menyatakan tetap konsisten dengan penasihat sebelumnya dan berencana untuk IPO sekitar bulan Juni. Kondisi pasar yang penuh ketidakpastian dan likuiditas yang menipis membuat perusahaan-perusahaan India berhati-hati dalam mengevaluasi rencana IPO mereka.





