Fenomena “job hugging” menjadi tren terbaru di pasar tenaga kerja saat ini, di mana para pekerja cenderung bertahan dalam pekerjaan mereka lebih lama karena khawatir kehilangan pekerjaan. Hal ini merupakan kebalikan dari tren sebelumnya di mana pekerja sering berpindah-pindah demi peluang, fleksibilitas, dan gaji yang lebih baik. Para ahli mengungkapkan bahwa ketakutan akan hal yang tidak diketahui memicu munculnya fenomena “job hugging” ini, di mana kestabilan dan keamanan menjadi prioritas bagi para pekerja.
Menurut Guru Besar Fisipol UGM, Tadjuddin Noer Effendi, kondisi sulit di pasar tenaga kerja menjadi faktor utama yang membuat orang lebih memilih bertahan dalam pekerjaan daripada mencari peluang baru. Meskipun kondisi kerja tidak memenuhi harapan, keamanan finansial menjadi alasan utama di balik fenomena “job hugging”. Namun, menyadari bahwa memeluk pekerjaan dengan terlalu erat juga dapat mengakibatkan stagnansi dan kehilangan peluang baru di tempat kerja lain.
Untuk mengatasi masalah ini, para ahli menyarankan agar para pekerja tetap mempertahankan pekerjaan utama namun juga mempertimbangkan untuk mengambil pekerjaan tambahan. Hal ini dianggap sebagai jalan tengah yang lebih aman daripada meninggalkan pekerjaan utama untuk meraih peluang baru yang tidak pasti. Meskipun fenomena “job hugging” dapat memberikan rasa keamanan sementara, pada akhirnya bisa merugikan kedua belah pihak, baik pekerja maupun perusahaan. Karena itu, penting bagi pekerja dan perusahaan untuk memahami konsekuensi jangka panjang dari fenomena ini dan berusaha mencari solusi yang lebih berkelanjutan.





