Pernikahan biasanya diidentikkan dengan kebahagiaan karena cinta. Namun, bagi sebagian orang tidak semua pernikahan lahir dari cinta. Salah satunya bisa disebabkan karena adanya tekanan sosial atas orientasi seksualnya, sehingga pernikahan dijadikan “jalan aman” untuk menutupi jati dirinya. Fenomena ini dikenal dengan istilah lavender marriage. Istilah lavender marriage merujuk pada sebuah pernikahan antara laki-laki dan perempuan yang dijalani bukan atas dasar cinta, melainkan sebagai upaya untuk menutupi orientasi seksual yang sebenarnya. Fenomena ini biasanya terjadi ketika salah satu atau kedua pasangan menghadapi tekanan sosial, budaya, agama, maupun ekspektasi keluarga terkait tidak diterimanya orientasi seksual yang mereka miliki, yakni non-heteroseksual (penyuka sesama jenis), seperti homoseksual. Namun di sisi lain, lavender marriage nyatanya memiliki dampak negatif terhadap kondisi psikologis individu yang menjalaninya. Walaupun lavender marriage ini dianggap sebagai jalan untuk memberikan rasa aman dari berbagai tekanan dalam jangka pendek, tanpa disadari ada dampak jangka panjang yang buruk bagi kesehatan mental pasangan ini.
Salah satu dampak psikologis dari lavender marriage adalah meningkatnya kecemasan, stres, dan depresi. Menyembunyikan jati diri secara terus-menerus akan menyebabkan perasaan yang terisolasi, kesepian, kesedihan, hingga putus asa. Sehingga, bisa menyebabkan terjadinya stres kronis, kecemasan, hingga depresi. Terkadang, terpaksa menyembunyikan jari diri sebenarnya untuk memenuhi ekspektasi sosial, dapat menyebabkan terjadinya konflik identitas atau hilangnya jati diri dan rendahnya harga diri. Individu akan merasa tidak yakin untuk menerima diri sendiri dan perasaan hidup dalam kebohongan. Hubungan yang didasari tanpa cinta akan membuat kurangnya keintiman dan emosional antar pasangan. Maka dari itu, mereka bisa mengalami kekosongan emosional, serta merasa frustasi dan benci terhadap pasangan. Pernikahan ini pun akhirnya hanya menyebabkan konflik dan tidak bahagia.
Seseorang yang mengalami tekanan ini, akhirnya akan mengalihkan rasa sakitnya kepada hal-hal negatif, seperti banyak minum alkohol, menggunakan narkoba, ataupun hal negatif lainnya yang membantu mereka meredam emosi. Perasaan tertekan melakukan lavender marriage juga bisa menyebabkan individu merasa trauma. Dalam jangka panjang, hal ini bisa menyebabkan gejala yang mirip dengan Post Traumatic Stress Disorder (PTSD), seperti disosiasi yang merupakan perasaan terpisah dari diri sendiri ataupun lingkungan sekitar, waspada yang berlebih, ataupun mati rasa emosional.
Sebelum akhirnya pasangan non-heteroseksual melakukan lavender marriage, ada beberapa faktor yang mendorong individu memilih pernikahan jenis ini. Tekanan sosial, budaya, menjaga karir, agama, keinginan untuk berkeluarga, keamanan finansial, dan perlindungan diri dari hukum dan sorotan publik menjadi faktor utama. Istilah lavender marriage pertama kali muncul pada awal abad ke-20 di Hollywood, dimana homoseksualitas dianggap tabu bahkan ilegal di banyak negara. Meskipun pernikahan ini dijalani hanya untuk alasan sosial atau karier, umumnya tidak bertahan lama dan berakhir dengan hubungan toxic hingga perceraian.





