Short selling adalah strategi perdagangan di pasar saham di mana investor menjual aset yang sebenarnya tidak dimiliki dengan harapan harga akan turun sehingga dapat dibeli kembali dengan harga yang lebih rendah. Namun, tidak semua saham dapat di short selling, saham-saham yang cocok untuk short selling adalah saham-saham dengan free float besar dan likuiditas harian yang tinggi. Bursa juga memberlakukan batasan maksimum untuk short selling oleh anggota bursa untuk mencegah tekanan berlebih pada pasar. Pada praktiknya, setiap anggota bursa memiliki kapasitas maksimum short selling harian yang berkisar antara 0,02 hingga 0,04% dari total saham yang ada.
Tujuan dari short selling bukan untuk menekan pasar, namun untuk mengoptimalkan potensi keuntungan bagi investor. Beberapa saham yang cocok untuk short selling antara lain PT Alamitri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Astra International Tbk (ASII), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM). Dengan pemahaman yang baik tentang saham-saham yang cocok untuk short selling, investor dapat mengambil keputusan perdagangan yang lebih tepat.
Ini Jawaban BEI: Short Selling Siap Meluncur 26 September 2025





