Meskipun saham INCO mengalami kenaikan harga yang signifikan dalam beberapa bulan terakhir, tim riset masih menyarankan untuk tetap mempertahankan saham tersebut (hold). Target harga yang diperkirakan adalah Rp3.500 per saham, tetapi rekomendasi ini mempertimbangkan adanya ketidakpastian terkait perizinan proyek nikel yang masih belum jelas hingga saat ini. Konsensus pasar, termasuk dari Bloomberg, juga telah memasukkan potensi penjualan BZ Nickel sebesar 18 juta ton pada tahun 2026 ke dalam valuasi saat ini. Namun, potensi kenaikan jangka pendek dianggap terbatas jika belum ada kepastian resmi terkait realisasi proyek tersebut.
Andrian menjelaskan bahwa rekomendasi hold didasarkan pada valuasi yang sudah cukup tinggi dan ketidakpastian terkait persetujuan RKAB yang belum diestimasi. Secara teknikal, saham INCO menunjukkan formasi rounding bottom yang dapat menjadi sinyal pembalikan arah menuju tren bullish, meskipun belum terkonfirmasi karena harga masih belum berhasil menembus level resistance penting di Rp3.920. Indikator stochastic menunjukkan bahwa saham ini sudah masuk ke area oversold, membuka peluang rebound dalam jangka pendek.
Area support terdekat berada di level Rp3.550 dan Rp3.470, sementara area resistance berada di Rp3.710 dan Rp3.790. Dengan pertimbangan teknikal yang cenderung positif dan potensi pergerakan harian, saham INCO tetap menarik bagi pelaku pasar yang mencari peluang trading jangka pendek. Meskipun pola rounding bottom sudah terbentuk, tetapi diperlukan breakout di Rp3.920 untuk konfirmasi. Rebound dari level support membuat saham ini menarik untuk trading pendek, seperti yang diungkapkan oleh Andrian.
Keputusan investasi tetap menjadi tanggung jawab pembaca dan disarankan untuk melakukan pembelajaran dan analisis sebelum membeli atau menjual saham. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan maupun kerugian yang mungkin timbul dari keputusan investasi.





