Konflik antara Israel dan Iran telah menyebabkan kenaikan harga minyak global, dengan kekhawatiran akan gangguan di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital bagi 20% pasokan minyak dunia setiap hari. Negara-negara besar pengekspor minyak seperti Arab Saudi, Iran, Irak, Kuwait, dan UEA sangat bergantung pada Selat Hormuz untuk mengekspor minyak mentah ke pasar global. Pada tahun 2019 dan 2020, ancaman Iran menutup Selat Hormuz saat bersitegang dengan AS meningkatkan harga minyak lebih dari 10% dalam waktu singkat.
Selain itu, konflik tersebut juga memengaruhi sektor saham tertentu seperti MEDC, ELSA, dan ANTM. MEDC dilaporkan memiliki potensi untuk membeli dengan target harga 1500 dan stop loss kurang dari 1360. ELSA juga dilaporkan mengalami kenaikan harga akibat konflik antara Israel dan Iran, dengan potensi pembelian pada titik breakout 520, target harga 545, dan stop loss kurang dari 505. Sedangkan ANTM juga menunjukkan peluang beli pada titik breakout 3350, target harga 3600, dengan stop loss kurang dari 3240.
Pengaruh konflik antara Israel dan Iran juga terlihat dalam sektor investasi, dengan gelombang safe haven flows yang memengaruhi harga emas dunia. Goldman Sachs memperkirakan harga emas dapat mencapai USD 3.700/t.oz pada akhir 2025, sementara BofA memproyeksikan kisaran harga USD 4.000/t.oz dalam 12 bulan ke depan, dengan konflik Timur Tengah sebagai katalis utama.
Namun, penting untuk diingat bahwa setiap keputusan investasi merupakan tanggung jawab pembaca sendiri. Sebaiknya melakukan pembelajaran dan analisis sebelum membeli atau menjual saham, serta mempertimbangkan segala risiko yang mungkin terjadi. Liputan6.com sebagai penyedia informasi tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.





