Waspada, Warga Kelas Menengah RI! Globalisasi Mengancam Anda!

by -32 Views
Waspada, Warga Kelas Menengah RI! Globalisasi Mengancam Anda!

Jakarta, CNBC Indonesia – Wakil Menteri Keuangan periode 2010-2014 Anny Ratnawati mengungkapkan, ekonomi masyarakat kelas menengah di Indonesia tengah terancam tekanan yang disebabkan lesunya aktivitas perekonomian dunia.

IMF dan World Bank juga telah memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2024 masih akan lemah seperti tahun lalu. Masing-masing memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi tahun ini hanya akan berada di kisaran 3,1% dan 2,4%.

“Jadi saya menangkap ini sebagai warning yang relevan, karena itu kita harus tetap waspada,” kata Anny dalam program Power Lunch CNBC Indonesia dikutip Rabu (20/3/2024).

Perlambatan ekonomi global pada tahun ini menurut Anny disebabkan permasalahan ekonomi negara-negara besar dunia yang tak kunjung selesai. Seperti ekonomi Jerman dan Inggris yang jatuh ke jurang resesi, dan inflasi di Amerika Serikat yang kembali naik ke level tinggi, yaitu di kisaran 3,2%.

Sebagai salah satu negara mitra dagang utama Indonesia, China juga tengah mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi, yang menurut Anny akan berada di level 5,2% dari yang selama ini mampu tumbuh di kisaran atas 7%-8%.

“Deflasi di China, ini mencerminkan daya beli atau agregat demand di domestik masih relatif ada kendala, belum pulih sepenuhnya, ekspor dan impor nya pun juga tumbuhnya belum pulih seperti 2022,” tutur Anny.

Transmisi dari efek dari lemahnya perekonomian global pada 2024 terhadap Indonesia, menurut Anny, akan masuk melalui dua jalur, yakni investasi dan net ekspor. Dua jalur ini memiliki konsekuensi yang besar terhadap pendapatan negara maupun lapangan kerja di Indonesia.

“Net export kita mulai terganggu karena tadi demand luar negeri turun, kemudian harga-harga dunia juga turun. Itu kan implikasinya ke penerimaan nanti, bisnis kita di sektor produksi,” ucap Anny.

Dengan terganggunya pendapatan negara karena melemahnya aktivitas ekspor dan investasi, Anny mengatakan negara akan menjadi sulit untuk belanja demi mengamankan perekonomian domestik. Sementara itu, penjualan perusahaan yang lesu menyebabkan pendapatan tenaga kerjanya juga ikut menyesuaikan.

“Aktivitas ekonomi global yang lemah juga menurutnya akan membuat barang-barang pangan yang diimpor Indonesia akan semakin mahal biayanya, seperti gandum, kedelai, dan jagung. Apalagi di tengah tren suku bunga bank sentral yang masih tinggi.

Harga pangan yang tinggi, menurut Anny akan menekan perekonomian kalangan kelas menengah ke bawah. Sebab, 60% dari kebutuhan belanjanya untuk golongan masyarakat itu habis hanya untuk bahan pangan.

“Golongan miskin relatif aman karena ada banyak bansos (bantuan sosial) dari pemerintah, sehingga mereka relatif aman,” ungkap Anny.

“Tapi gol menengah di border bisa jatuh ke miskin karena faktor komponen bahan pangan di dalam belanjanya di kisaran 60%, belum lagi dia kena hit karena era suku bunga tinggi yang bisa pengaruhi kredit-kredit,” tegasnya.

Senada dengan Anny, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memaparkan ekonomi dunia memang tengah menghadapi tekanan, yang bisa berimplikasi bagi perekonomian domestik. Tekanan itu terdiri dari tiga hal, yakni suku bunga tinggi, kondisi geopolitik, dan perubahan iklim.

“Kita juga melihat bahwa rembesan dari faktor global terlihat di neraca perdagangan Indonesia,” ucap Sri Mulyani saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR, kemarin.