Ditolak Trump, Iran Tunggu Jawaban AS soal Selat Hormuz

by -68 Views

Iran masih menunggu jawaban resmi Amerika Serikat (AS) atas proposal pembukaan kembali Selat Hormuz, meski Presiden Donald Trump telah menyatakan tawaran tersebut tidak dapat diterima. Teheran menyebut respons Trump yang disampaikan secara terbuka belum menjadi jawaban resmi karena belum diteruskan melalui mediator.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pemerintahnya telah mengetahui reaksi awal Trump. Namun, Iran masih menanti tanggapan definitif sebelum memutuskan langkah berikutnya.

“Kami telah melihat reaksi pertama dari presiden AS, tetapi belum ada yang disampaikan kepada kami dari para mediator,” kata Araghchi, dikutip dari CNN World, Minggu (27/9/2026).

Syarat Iran untuk Membuka Selat Hormuz

Proposal terbaru Iran menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari. Langkah itu juga dimaksudkan untuk membuka jalan bagi kelanjutan perundingan nuklir antara Teheran dan Washington.

Namun, Iran mensyaratkan AS lebih dahulu mencabut blokade angkatan laut serta menghapus sanksi terhadap minyak Iran. Araghchi menegaskan, jalur pelayaran baru dapat kembali normal setelah persyaratan tersebut dipenuhi.

“Jika syarat-syarat yang diperlukan terpenuhi, selat tersebut dapat dibuka kembali, dan jalur pelayaran normal dapat dipulihkan dalam waktu tujuh hari. Pilihan sekarang ada di tangan Amerika Serikat,” ujar dia.

Menurut Araghchi, tuntutan Iran tidak melampaui poin-poin yang tercantum dalam Nota Kesepahaman AS-Iran yang ditandatangani pada Juni. Kesepakatan itu, lanjut dia, kemudian gagal setelah pertempuran kembali pecah.

“Anda tidak bisa membom suatu negara, mengancam pemusnahannya, memberlakukan blokade maritim, dan tindakan paksaan, lalu mengharapkan pemulihan keamanan dan navigasi secara otomatis,” katanya.

Trump Menolak Tawaran Teheran

Trump menolak proposal tersebut pada Sabtu. Ia menyebut tawaran Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz sebagai kesepakatan yang “tidak dapat diterima”.

“Mereka ingin membuat kesepakatan di mana mereka segera membuka selat itu karena mereka mengalami kerugian yang sangat besar,” kata Trump.

“Mereka ingin membuat kesepakatan, dan saya pikir itu tidak masalah. Saya juga suka membuat kesepakatan, tetapi kesepakatan itu tidak akan dapat diterima,” lanjutnya.

Pernyataan itu muncul setelah sejumlah pejabat senior Iran berada di New York selama sepekan untuk menghadiri Sidang Umum PBB dan bertemu dengan pejabat AS. Penolakan Trump menandakan belum terlihatnya kemajuan diplomatik yang nyata antara kedua negara.

Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan Washington tetap berkomunikasi dengan Iran melalui mediator. Ia menyebut AS berada dalam posisi yang kuat karena mengendalikan Selat Hormuz sehingga tidak berada dalam tekanan untuk segera mencapai kesepakatan.

“Amerika Serikat berada dalam posisi yang sangat kuat dengan kendali atas Selat Hormuz, jadi kami tidak terburu-buru,” ujar pejabat tersebut.

Pejabat itu sebelumnya menyebut komunikasi melalui mediator berlangsung positif dan konstruktif. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga mengatakan kesepakatan dengan Iran masih membutuhkan negosiasi panjang.

“Jika akan ada kesepakatan dengan Iran…itu akan melibatkan banyak kerja keras selama jangka waktu tertentu,” kata Rubio.

Iran Bersiap Menghadapi Kemungkinan Serangan

Ketidakpastian diplomatik berlangsung bersamaan dengan laporan mengenai kemungkinan serangan baru AS terhadap Iran. Sejumlah pejabat AS pada Jumat melaporkan bahwa Trump menyampaikan kepada stafnya kemungkinan kampanye pengeboman baru setelah pemilihan paruh waktu. Namun, pandangan Trump disebut masih dapat berubah dalam beberapa minggu mendatang.

Dalam pidatonya di Sidang Umum PBB, Trump mengatakan dirinya harus mengambil keputusan besar mengenai masa depan hubungan AS-Iran. Ia mempertanyakan apakah akan mencapai kesepakatan yang memungkinkan Iran membangun kembali negaranya atau “memusnahkan Republik Islam” dengan cepat.

Juru bicara militer Iran Mohammad Akraminia mengatakan AS masih berpotensi melancarkan serangan baru. Menurut laporan Reuters pada Minggu, ia menyebut kemungkinan itu berkaitan dengan “situasi regionalnya yang buruk” dan menegaskan Teheran siap menghadapi segala bentuk konfrontasi.

Source link