Benarkah Chatbot AI Butuh Banyak Air? Cek Faktanya!

by -49 Views

Chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI) memang memiliki jejak penggunaan air, tetapi besarannya tidak bisa disamaratakan untuk setiap pertanyaan. Kebutuhan tersebut terutama berkaitan dengan operasional pusat data, tempat server berdaya komputasi tinggi memproses permintaan pengguna.

Server menghasilkan panas saat bekerja sehingga harus didinginkan agar tetap beroperasi pada suhu yang sesuai. Sebagian pusat data menggunakan air dalam sistem pendingin untuk menyerap dan membuang panas dari fasilitas. Semakin besar kebutuhan komputasi, semakin besar pula tantangan untuk mengelola panas dan sumber daya pendingin.

Air tidak hanya digunakan untuk mendinginkan server

Jumlah air yang dipakai pusat data dipengaruhi oleh teknologi pendingin, kondisi iklim, desain fasilitas, serta kebijakan pengelolaan air. Artinya, pusat data yang menjalankan layanan AI tidak selalu menggunakan air dalam jumlah yang sama.

Penggunaan air juga dapat terjadi secara tidak langsung melalui proses pembangkitan listrik yang memasok energi ke pusat data. Penelitian yang diterbitkan pada 2025 memperkirakan konsumsi air pusat data global mencapai sekitar 560 miliar liter pada 2023. Sekitar 373 miliar liter di antaranya berkaitan dengan penggunaan air tidak langsung untuk pembangkitan listrik, sedangkan sekitar 140 miliar liter merupakan penggunaan langsung di pusat data.

Angka tersebut merupakan estimasi untuk seluruh pusat data, bukan konsumsi satu chatbot atau satu percakapan tertentu. Karena itu, angka konsumsi global tidak dapat langsung dibagi atau diterapkan pada setiap pertanyaan yang dikirimkan kepada layanan AI.

Mengapa angka konsumsi air per pertanyaan berbeda?

Perbedaan angka yang beredar mengenai penggunaan air AI juga dipengaruhi oleh metode penghitungan. Sebagian perhitungan hanya memasukkan kebutuhan komputasi, sementara metode lain turut memperhitungkan sistem pendingin dan air yang digunakan dalam pembangkitan listrik.

Google, misalnya, pada 2025 mengukur konsumsi sumber daya untuk layanan Gemini. Berdasarkan data Mei 2025 dan metodologi yang mencakup penggunaan energi sistem serta konsumsi air pusat data, perusahaan memperkirakan satu prompt teks median Gemini Apps menggunakan sekitar 0,26 mililiter air.

Google menegaskan bahwa angka tersebut merupakan hasil pengukuran pada titik waktu tertentu dan tidak berlaku untuk seluruh layanan AI. Dengan begitu, tidak tepat menyimpulkan setiap pertanyaan chatbot pasti menghabiskan jumlah air yang sama. Jenis model, kompleksitas tugas, efisiensi perangkat keras, lokasi pusat data, sistem pendingin, dan sumber listrik dapat memengaruhi hasilnya.

Efisiensi meningkat, tetapi penggunaan AI terus bertambah

International Energy Agency (IEA) mencatat konsumsi listrik pusat data global meningkat 17 persen pada 2025. Pada periode yang sama, konsumsi listrik pusat data yang berfokus pada AI naik sekitar 50 persen. IEA memperkirakan konsumsi listrik seluruh pusat data dapat meningkat dari sekitar 485 terawatt-jam (TWh) pada 2025 menjadi sekitar 950 TWh pada 2030.

Pertumbuhan penggunaan tersebut membuat dampak lingkungan AI tidak hanya ditentukan oleh efisiensi satu permintaan, tetapi juga jumlah pengguna, jenis pekerjaan yang diproses, dan pembangunan infrastruktur pusat data.

Perusahaan teknologi terus mengembangkan cara untuk mengurangi kebutuhan air. Microsoft melaporkan rata-rata water usage effectiveness (WUE) pusat datanya turun dari 2,3 liter per kilowatt-jam menjadi 0,27 liter per kilowatt-jam pada 2025. Menurut perusahaan, penurunan itu didukung teknologi pendinginan dan peningkatan operasional.

Dalam laporan lingkungan 2026, Google menyebut proyek pengelolaan airnya pada 2025 telah melakukan pengisian kembali sekitar 7,7 miliar galon air, setara dengan sekitar 78 persen konsumsi air tawarnya pada tahun tersebut. Fakta-fakta itu menunjukkan bahwa chatbot AI memiliki kebutuhan air, tetapi besarnya bergantung pada rangkaian faktor teknis dan operasional, bukan semata-mata jumlah pertanyaan pengguna.

Source link