Suporter PSIM dan PSS Berdamai: Sejarah Perseteruannya

by -99 Views

Empat kelompok suporter PSIM Yogyakarta dan PSS Sleman menandatangani kesepakatan untuk menjaga keamanan menjelang Derbi Mataram pada BRI Super League 2026/2027. Kesepakatan itu dibuat di Mapolda DIY, Rabu (16/9), ketika rivalitas dua klub kembali memasuki fase penting setelah sama-sama tampil di kompetisi kasta tertinggi.

Kelompok yang terlibat ialah Brajamusti dan Mataram Independent (The Maident) dari kubu PSIM, serta Slemania dan Brigata Curva Sud (BCS) yang mendukung PSS. Penandatanganan disaksikan manajemen kedua klub, Match Organizing Committee (MOC), Wali Kota Yogyakarta, Bupati Sleman, Asprov PSSI DIY, dan jajaran Polda DIY.

Komitmen menjaga pertandingan dan lingkungan sekitar

Melalui kesepakatan tersebut, para suporter menyatakan kesiapan menjaga keamanan pertandingan, menghindari provokasi, dan menolak tindakan anarkis. Komitmen itu berlaku di dalam maupun di luar stadion, termasuk saat suporter berangkat menuju lokasi pertandingan dan ketika meninggalkan stadion.

Suporter juga berjanji tidak membawa barang berbahaya, tidak menyebarkan narasi negatif di media sosial, serta tidak melakukan pengrusakan, penganiayaan, pembakaran, atau penghadangan. Mereka pun menyatakan tidak akan melakukan tindakan melanggar hukum terhadap pemain maupun pendukung tim lawan.

Rendi Agung, perwakilan suporter PSIM, menyatakan pihaknya akan ikut menjaga kondisi kelompok pendukung hingga ke tingkat akar rumput. Dari kubu Slemania, Tato Indarto menilai komitmen tersebut penting untuk menjaga nama baik sepak bola di Sleman dan Yogyakarta.

Kesepakatan itu juga memuat kesiapan klub dan suporter menerima pengalihan lokasi pertandingan apabila kondisi keamanan dinilai tidak memungkinkan. Polda DIY masih akan mengevaluasi situasi sebelum menentukan keputusan teknis, termasuk mengenai kehadiran penonton dalam laga derbi.

Rivalitas yang memiliki catatan konflik

PSIM bermarkas di Kota Yogyakarta, sedangkan PSS berasal dari Kabupaten Sleman. Pertemuan kedua klub dikenal sebagai Derbi Mataram, merujuk pada keterkaitan sejarah kawasan Mataram dengan wilayah Yogyakarta dan sekitarnya.

Persaingan mereka mendapat perhatian lebih besar setelah PSS promosi ke kasta teratas pada musim 1999/2000, sementara PSIM turun ke kasta kedua. Kedekatan wilayah dan besarnya basis pendukung kemudian memperkuat rivalitas antara Brajamusti, The Maident, Slemania, dan BCS.

Penelitian Universitas Gadjah Mada mencatat perselisihan Slemania dan Brajamusti telah berlangsung sejak sekitar tahun 2000. Atribut klub dan fanatisme disebut menjadi salah satu faktor yang dapat memicu gesekan.

Rivalitas itu pernah berujung pada peristiwa fatal. Pada 22 Mei 2016, bentrokan di Jalan Magelang KM 14 menyebabkan pendukung PSS, Stanislaus Gandhang Deswara, meninggal dunia. Dua tahun kemudian, tepatnya 26 Juli 2018, Muhammad Iqbal Setyawan, yang disebut sebagai penonton non-suporter, meninggal setelah menjadi korban pengeroyokan dalam kerusuhan terkait Derbi Mataram.

Derbi kembali digelar di kasta tertinggi

Upaya meredakan ketegangan telah dilakukan sebelumnya. Pada April 2018, Polda DIY mempertemukan perwakilan empat kelompok suporter dalam acara Rekonsiliasi dan Paseduluran Suporter. Menjelang musim 2026/2027, langkah serupa kembali ditempuh dengan cakupan komitmen yang lebih luas.

Derbi Mataram pertama musim ini dijadwalkan berlangsung pada 10 Desember 2026. PSIM akan menjadi tuan rumah di Stadion Sultan Agung, Bantul. Laga tersebut menandai kembalinya PSS ke kompetisi kasta tertinggi setelah sebelumnya bermain di Liga 2 atau Championship, sementara PSIM menjalani musim keduanya di level tersebut.

Kembalinya kedua klub ke kompetisi yang sama membuat pertandingan itu menjadi perhatian publik sepak bola DIY. Namun, rivalitas yang semestinya menjadi bagian dari daya tarik olahraga tetap harus berada dalam batas pertandingan agar tidak kembali berdampak pada keamanan masyarakat.

Source link