Malapetaka Guncang Amerika: Krisis Lebih Besar dari Covid-19

by -77 Views

Pelaku usaha di Amerika Serikat menghadapi rangkaian gangguan yang dinilai lebih rumit dan menekan dibandingkan krisis rantai pasok pada masa Covid-19. Masalah itu mencakup lonjakan harga energi, hambatan pelayaran, kelangkaan kontainer, cuaca ekstrem, hingga ketidakpastian akibat perang dengan Iran.

Survei bulanan Institute for Supply Management (ISM) yang menjadi salah satu rujukan utama dunia usaha menunjukkan, sejumlah pemimpin bisnis bahkan menilai kondisi saat ini lebih buruk daripada periode pandemi. Rantai pasok memang masih berjalan, tetapi dengan biaya yang lebih tinggi, hambatan yang berulang, serta perubahan harga yang sulit diprediksi.

Gangguan datang dari berbagai arah

Jeff Vojta, CEO Dilworth Coffee yang berbasis di Raleigh, Carolina Utara, mengatakan perusahaannya menghadapi tekanan bertubi-tubi. Pada 2024, buruknya panen kopi Brasil mendorong harga kontrak berjangka kopi ke rekor tertinggi. Setahun kemudian, kebijakan tarif global Presiden Donald Trump kembali meningkatkan harga komoditas tersebut.

Pada 2026, persoalan bertambah dengan pecahnya perang dengan Iran dan munculnya fenomena Super El Niño. Vojta menyebut dunia usaha kini harus menghadapi gangguan pengiriman, kelangkaan kontainer, kenaikan biaya akibat situasi di Laut Merah, serta mahalnya pupuk.

“Kita sedang menghadapi masa gangguan yang belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Vojta, seperti dikutip CNN International, Senin (21/9/2026). Ia menambahkan, situasi yang dihadapi pelaku usaha “benar-benar penuh ketidakpastian”.

Tekanan tersebut tidak hanya dirasakan industri kopi. Jack Buffington, Direktur Program University of Denver, menyebut persoalan yang berlangsung sekarang lebih besar daripada Covid-19. “Ini jelas masalah yang lebih besar daripada Covid,” ujarnya. Menurut dia, perbedaannya terletak pada karakter krisis yang kini juga merupakan masalah energi.

Harga energi dan pengiriman ikut menekan

Pemerintahan Trump sebelumnya menggambarkan perang dengan Iran sebagai guncangan ekonomi sementara. Trump menyatakan harga minyak akan turun drastis setelah perang dimenangkan dan dampaknya akan berlangsung cepat.

Namun, berbagai gangguan lain membuat tekanan inflasi tidak mudah hilang, bahkan jika konflik tersebut berakhir. Pada pertengahan Juni, ketika Selat Hormuz kembali dibuka setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman, harga bensin turun di bawah 4 dolar AS per galon. Harga minyak juga sempat jatuh ke bawah level sebelum perang.

Sejak itu, situasi berubah. Harga bahan bakar dan biaya pengiriman mulai memengaruhi sektor ekonomi lain. Inflasi inti, yang tidak memasukkan harga energi dan pangan yang berfluktuasi, mencatat kenaikan bulanan terbesar sejak April. Kenaikan biaya jasa menjadi salah satu dampaknya, sementara harga jasa biasanya tidak kembali turun setelah meningkat.

Harga solar juga telah berlipat ganda sejak Maret. Kenaikan itu dipicu eskalasi perang di Timur Tengah dan serangan berulang Ukraina terhadap kilang minyak Rusia. Larangan ekspor solar Rusia turut memangkas 12 persen pasokan solar dunia yang dikirim melalui jalur laut.

Gangguan cuaca memperburuk keadaan. Serangkaian badai topan sempat melumpuhkan operasional Pelabuhan Shanghai, pelabuhan peti kemas terbesar di dunia, selama dua minggu dan menyebabkan penundaan signifikan. Aksi pemberontak Houthi di Laut Merah serta pembajakan oleh perompak Somalia di Teluk Aden juga memaksa kapal mengubah rute mengelilingi Afrika.

Usaha kecil berada di titik kritis

Ryan Petersen, CEO Flexport, mengatakan kapasitas pengiriman global berkurang 15 persen tahun ini. “Saya telah berkecimpung di dunia logistik selama 25 tahun, dan saya belum pernah melihat situasi seburuk ini,” katanya.

Sean Brownlee, CEO Ravenox, menyebut dunia usaha AS kini berada di titik kritis, dengan usaha kecil sebagai pihak yang paling terdampak. Menurutnya, perusahaan kecil akan berusaha menanggung kenaikan biaya sampai batas terakhir.

“Kami hanya menginginkan kepastian,” ujar Brownlee. Ia membandingkan kondisi sekarang dengan pandemi: Covid-19 memang sempat menghentikan rantai pasok, tetapi kemudian perlahan pulih. Kini, pengiriman terus berjalan, berhenti, membaik, lalu kembali terganggu, sementara harga bergerak naik dan turun secara ekstrem.

“Rantai pasok tetap berjalan, namun dengan biaya, hambatan, dan ketidakpastian yang jauh lebih besar dibandingkan masa Covid,” kata Brownlee.

Source link