Tentara Iran Seret Peti Mati Trump-Netanyahu di Pawai Akbar

by -72 Views

Teheran menggelar demonstrasi terbesar sejak perang antara Iran dan Amerika Serikat (AS) serta Israel dimulai pada Februari 2026. Aksi yang diselenggarakan pemerintah itu berlangsung pada Jumat (18/9/2026) dan dihadiri Presiden Iran Masoud Pezeshkian, ketika konflik yang telah berjalan sekitar enam bulan terus menekan situasi militer, ekonomi, dan jalur energi global.

Pezeshkian hadir bersama pejabat tinggi Iran

Dalam pawai tersebut, massa dan personel militer menunjukkan dukungan terhadap pemerintah Iran. Anggota perempuan pasukan Basij ikut dalam barisan militer yang digelar di Teheran. Basij merupakan sayap paramiliter dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Selain Pezeshkian, Kepala Pasukan Basij Iran Hossein Taeb juga hadir. Kehadiran para pejabat tinggi itu memperlihatkan bahwa demonstrasi tersebut menjadi bagian dari mobilisasi resmi pemerintah setelah perang berlangsung selama berbulan-bulan.

Sejumlah peserta membawa spanduk dengan tulisan “We Will Kill” atau “Kita akan Membunuh” yang disertai gambar Presiden AS Donald Trump. Dalam aksi lainnya, personel militer menginjak dan menyeret peti mati bergambar Trump serta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Konflik mengganggu jalur energi

Demonstrasi digelar ketika Iran menghadapi tekanan besar di bidang militer dan ekonomi. Setelah sekitar enam bulan konflik, AS dan Iran masih terjebak dalam perang atrisi, dengan sejumlah periode eskalasi yang kembali meningkatkan ketegangan.

Di tengah tekanan tersebut, pemerintah Iran tetap menunjukkan sikap menantang dengan menghambat pengiriman minyak melalui Selat Hormuz. Jalur ini menjadi salah satu titik penting bagi lalu lintas energi, sehingga gangguan di kawasan itu memunculkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak dunia.

Situasi tersebut semakin kompleks setelah kelompok Houthi di Yaman, yang merupakan sekutu Iran, memperketat kendali atas jalur strategis di Laut Merah. Perkembangan itu meningkatkan kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi energi dan turut mendorong kenaikan harga minyak.

Ancaman meluas ke kawasan sekitar

Meluasnya konflik hingga Yaman dan Arab Saudi menambah risiko bagi jalur alternatif yang digunakan untuk mengangkut ekspor minyak negara-negara Teluk. Kekhawatiran itu muncul ketika lalu lintas energi melalui Selat Hormuz masih mengalami gangguan.

Kondisi tersebut membuat perhatian tertuju pada keamanan dua jalur pelayaran utama, yakni Selat Hormuz dan Laut Merah. Gangguan yang berlangsung bersamaan di kedua kawasan itu berpotensi memperumit distribusi minyak global, sementara perang antara Iran, AS, dan Israel belum menunjukkan tanda berakhir.

Source link