Ketergantungan dunia terhadap minyak bumi belum mudah dihentikan. Bahan bakar kendaraan, pesawat, kapal, hingga kegiatan industri masih banyak menggunakan hasil pengolahan komoditas tersebut. Namun, minyak bumi merupakan energi fosil yang terbatas dan penggunaannya menghasilkan emisi gas rumah kaca.
Karena itu, berbagai sumber energi alternatif terus dikembangkan. Tidak ada satu jenis energi yang dapat langsung menggantikan seluruh fungsi minyak bumi. Tenaga surya dan angin, misalnya, lebih banyak digunakan untuk pembangkitan listrik, sedangkan biofuel dan hidrogen berpeluang dimanfaatkan dalam transportasi. Berikut sejumlah sumber energi yang dikembangkan sebagai alternatif bahan bakar fosil.
Tujuh sumber energi alternatif
1. Energi surya. Panel fotovoltaik mengubah cahaya matahari menjadi listrik. Berdasarkan catatan International Renewable Energy Agency (IRENA), tenaga surya menyumbang sekitar 452,1 gigawatt (GW) dari total 582 GW kapasitas energi terbarukan baru yang terpasang di dunia sepanjang 2024. Angka itu menjadikan surya sebagai sumber dengan penambahan kapasitas terbesar.
Pembangkit surya tidak membakar bahan bakar saat menghasilkan listrik. Namun, produksinya bergantung pada sinar matahari sehingga memerlukan baterai dan jaringan listrik yang memadai agar pasokan tetap tersedia ketika matahari tidak bersinar.
2. Energi angin. Turbin angin mengubah gerakan udara menjadi listrik dan dapat dipasang di daratan maupun lepas pantai. Penambahan kapasitas tenaga angin mencapai sekitar 114,3 GW pada 2024, terbesar kedua setelah surya menurut IRENA. Keterbatasannya terletak pada ketergantungan terhadap kondisi angin.
3. Energi air. Pembangkit listrik tenaga air memanfaatkan aliran atau jatuhan air untuk menggerakkan turbin. Kapasitas pembangkit listrik tenaga air dunia mencapai sekitar 1.277 GW pada akhir 2024, di luar kapasitas pumped storage. Sumber ini dapat membantu menjaga fleksibilitas sistem kelistrikan, tetapi bendungan dan proyek berskala besar berpotensi berdampak terhadap lingkungan serta membutuhkan kondisi geografis tertentu.
4. Energi panas bumi. Panas dari dalam bumi dapat digunakan untuk menghasilkan listrik maupun panas. Pembangkit panas bumi relatif stabil karena tidak bergantung pada sinar matahari atau angin. IRENA mencatat kapasitas panas bumi terpasang dunia sekitar 15,4 GW pada akhir 2024, dengan Indonesia termasuk lima negara berkapasitas terbesar. Pengembangannya membutuhkan eksplorasi dan investasi awal yang besar.
5. Bioenergi dan biofuel. Bahan organik seperti tanaman, limbah pertanian, dan limbah kayu dapat diolah menjadi listrik, panas, atau bahan bakar. Biodiesel, yang dapat dibuat dari minyak nabati, menjadi salah satu contoh penggunaannya di sektor transportasi. Pengembangan bioenergi perlu memperhatikan risiko deforestasi, gangguan terhadap ketahanan pangan, dan dampak lingkungan lainnya.
6. Hidrogen. Hidrogen dapat digunakan dalam teknologi fuel cell untuk menghasilkan listrik, dengan air sebagai produk utama ketika hidrogen bereaksi dengan oksigen. Namun, hidrogen bukan sumber energi primer karena harus diproduksi terlebih dahulu. Dampak lingkungannya bergantung pada sumber energi yang digunakan dalam proses produksi. Hidrogen yang dibuat dengan listrik dari energi terbarukan dikenal sebagai hidrogen hijau.
7. Energi nuklir. Meski bukan energi terbarukan, nuklir kerap dibahas sebagai alternatif bahan bakar fosil. Reaksi fisi pada pembangkit nuklir mampu menghasilkan listrik dalam jumlah besar secara stabil tanpa membakar minyak atau batu bara. Tantangannya mencakup keselamatan pembangkit, pengelolaan limbah radioaktif, dan kebutuhan investasi yang besar.
Pengganti minyak bergantung pada sektor
Minyak bumi juga berfungsi sebagai bahan baku industri petrokimia untuk membuat plastik, bahan kimia, dan berbagai produk lainnya. Karena itu, pengurangan ketergantungan terhadap minyak tidak cukup dilakukan hanya dengan mengganti bensin menggunakan kendaraan listrik.
Untuk listrik, tenaga surya, angin, air, dan panas bumi dapat digunakan sesuai kondisi masing-masing. Sementara itu, kendaraan listrik, biofuel, dan hidrogen memiliki peluang penerapan yang berbeda dalam sektor transportasi.
IRENA mencatat 91 persen kapasitas pembangkit energi terbarukan skala utilitas yang mulai beroperasi pada 2024 menghasilkan listrik dengan biaya lebih rendah dibandingkan alternatif pembangkit fosil baru yang paling murah. Data tersebut memperlihatkan bahwa transisi energi dilakukan melalui kombinasi berbagai sumber, bukan dengan mencari satu pengganti tunggal bagi minyak bumi.





