Abu Vulkanik dari Gunung Anak Krakatau Mengganggu Penerbangan di Indonesia
Jakarta (ANTARA) – Sebaran abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau telah mengganggu penerbangan di berbagai wilayah Indonesia. Dampaknya tidak hanya terbatas pada jarak pandang, tetapi juga menimbulkan risiko kerusakan pada mesin dan komponen pesawat.
Abu Vulkanik: Ancaman Serius bagi Penerbangan
Pada awal September 2026, Gunung Anak Krakatau kembali erupsi, menyebabkan sebaran abu vulkanik yang mencapai sejumlah wilayah, termasuk Jakarta, Jawa, dan Sumatra. Akibatnya, beberapa bandara harus menutup sementara operasional penerbangan untuk menjaga keselamatan.
Menurut United States Geological Survey (USGS), abu vulkanik terdiri dari pecahan batuan, mineral, dan material vulkanik kecil. Partikel-partikel ini bersifat abrasif dan dapat membahayakan penerbangan, bahkan ketika pesawat tidak berada tepat di atas gunung api. Awan abu dengan konsentrasi tinggi bisa merusak sistem pesawat, mengurangi jarak pandang, dan menyebabkan gangguan pada mesin jet.
Risiko Terbesar: Kerusakan Mesin Pesawat
Salah satu risiko utama ketika pesawat terkena abu vulkanik adalah kemungkinan material tersebut masuk ke dalam mesin jet. Abu yang terhisap dalam mesin bisa meleleh dan menyebabkan kerusakan pada komponen mesin, bahkan risiko flameout atau kehilangan daya dorong mesin.
Insiden-insiden sebelumnya, seperti pada tahun 1982 ketika sebuah Boeing 747 kehilangan tenaga mesin akibat erupsi Gunung Galunggung di Indonesia, menjadi cerminan bahaya pertemuan pesawat dengan abu vulkanik. Data USGS juga mencatat bahwa sebagian besar insiden semacam itu menyebabkan kerusakan pada pesawat atau mesinnya.
Paparan abu vulkanik juga bisa merusak kaca pesawat dan sistem lainnya. Partikel abrasif ini bisa menggores kaca depan pesawat, mengganggu visibilitas pilot, serta mempercepat keausan komponen pesawat.
Selalu Utamakan Keselamatan
Penutupan bandara dan pengalihan rute penerbangan saat terjadi erupsi gunung berapi adalah langkah pencegahan yang diambil otoritas penerbangan demi keselamatan penumpang dan awak pesawat. Meskipun bisa menimbulkan ketidaknyamanan dan penundaan, keputusan ini tetap diambil untuk mencegah risiko yang lebih besar.
Dalam kondisi seperti ini, keselamatan harus menjadi prioritas utama. Para pilot dan pengendali lalu lintas udara harus mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk lokasi, ketinggian, konsentrasi, dan arah pergerakan abu vulkanik sebelum menentukan tindakan selanjutnya.





