Ekonomi Indonesia Melaju dengan PDB Kuartal II 2026
Pada pekan lalu, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah menunjukkan kekuatan yang solid. Namun, fokus pekan ini tertuju pada rilis data inflasi dari Amerika Serikat (AS) yang diprediksi akan memengaruhi pasar keuangan global.
Data Ekonomi Indonesia
PT Syailendra Capital merilis data ekonomi domestik Indonesia dalam beberapa aspek. Inflasi pada periode terakhir turun menjadi 2,88% dari sebelumnya 3,34%, sementara inflasi inti tetap stabil di angka 2,76%. Neraca dagang juga menunjukkan perbaikan dengan defisit hanya sebesar US$ 0,45 miliar dari sebelumnya US$ 1,61 miliar, dan cadangan devisa yang masih sehat mencapai US$ 145,3 miliar.
Selain itu, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada kuartal II 2026 tumbuh sebesar 5,26%. Meskipun angka ini melampaui ekspektasi pasar sebesar 5,1%, namun terjadi perlambatan dari pertumbuhan pada kuartal sebelumnya yang mencapai 5,61%.
Langkah Pemerintah dan BUMN
Untuk menopang pertumbuhan ekonomi, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengumumkan penambahan likuiditas perbankan BUMN sebesar Rp 70 triliun. Selain itu, penempatan dana saldo anggaran lebih (SAL) juga diperpanjang hingga Juli 2027 untuk mendorong penyaluran kredit kepada masyarakat.
Sementara itu, BUMN bergerak menuju perubahan dengan menyusun rencana transformasi selama lima tahun ke depan. Salah satu langkahnya adalah rencana penawaran umum perdana (IPO) bagi BUMN seperti Pegadaian, Pupuk Indonesia, Pelindo, dan InJourney untuk meningkatkan nilai perusahaan dan transparansi.
Sentimen Luar Negeri
Di sisi lain, dari luar negeri, data non-farm payroll (NFP) AS menunjukkan penurunan lapangan kerja sebesar 23.000 pada bulan Juli 2026 setelah sebelumnya menambah 57.000 tenaga kerja pada bulan Juni. Hal ini mengindikasikan pelemahan signifikan di pasar tenaga kerja AS, sehingga mempengaruhi keputusan the Federal Reserve (the Fed) terkait kebijakan suku bunga ke depannya.
Terkait dengan Iran, negara tersebut menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka lagi sebelum tuntutan mereka kepada Amerika Serikat dipenuhi secara keseluruhan, termasuk kompensasi atas kerusakan perang dan biaya bagi kapal yang melintas.





