IHSG Tertekan, Bursa Asia Menguat
Pada perdagangan sesi pertama hari Rabu (3/6/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan dengan penurunan 4,94% menjadi 5.889,48. Hal ini terjadi meskipun sebagian besar bursa saham Asia Pasifik menguat.
IHSG di Sesi Pertama
Selama sesi pertama, IHSG bergerak di kisaran antara level tertinggi 6.213,80 dan level terendah 5.876,31. Dari 714 saham yang melemah, hanya 35 saham yang menguat dan 64 saham stagnan. Volume perdagangan saham mencapai 26,4 miliar saham dengan frekuensi perdagangan sebanyak 1.798.806 kali. Nilai transaksi harian saham mencapai Rp 14,9 triliun, sedangkan nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah berada di kisaran 17.928.
Sektor Saham Menguat
Seluruh sektor saham terpantau mengalami penurunan, dimulai dari sektor energi yang turun 7,16%, hingga sektor infrastruktur yang tergelincir 6,73%. Koreksi harga juga terjadi pada sektor basic, industri, consumer nonsiklikal, consumer siklikal, kesehatan, keuangan, properti, teknologi, dan transportasi.
Pergerakan Bursa Asia Pasifik
Beralih ke pergerakan bursa saham Asia Pasifik, CNBC melaporkan bahwa pada hari yang sama, indeks Nikkei 225 di Jepang mencapai rekor tertinggi. Hal ini terjadi karena investor tampaknya mengabaikan ketidakpastian negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran terkait konflik di Timur Tengah.
Akibat meningkatnya ketegangan antara kedua negara tersebut, indeks saham di wilayah Asia Pasifik cenderung menguat. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, juga memberikan pernyataan terkait situasi tersebut saat berbicara di hadapan Komite Hubungan Luar Negeri Senat.





