Mengapa Netanyahu Menolak Damai di Timur Tengah?

by -54 Views

Konflik di Timur Tengah kembali memanas dengan eskalasi Israel di Lebanon yang dinilai bukan sekadar operasi militer biasa. Menurut Presiden Pusat Studi Timur Tengah sekaligus dosen tamu Universitas HSE Moskow, Murad Sadygzade, operasi militer Israel di Lebanon telah melampaui dalih serangan presisi terhadap infrastruktur militer Hizbullah. Menurutnya, langkah Tel Aviv mencerminkan “strategi jangka panjang” yang sulit membuat perdamaian terwujud dalam waktu dekat di Teluk.

Eskalasi dimulai awal Maret setelah Hizbollah merespons serangan terhadap Iran. Israel kemudian melancarkan serangan udara besar dan memperluas operasi darat di Lebanon selatan. Menurut Sadygzade, pembentukan “zona keamanan” pada praktiknya berarti kontrol wilayah jangka panjang, yang mencakup depopulasi wilayah perbatasan dan menciptakan fakta baru di lapangan yang sulit dibalikkan. Serangan besar pada 8 April menjadi titik paling berdarah dengan Israel mengklaim menyerang lebih dari 100 target Hizbullah di Beirut, Lembah Bekaa, dan Lebanon selatan. Data otoritas Lebanon menunjukkan 254 orang tewas dan lebih dari 1.100 luka-luka, serta memicu eksodus besar dengan lebih dari 1 juta warga mengungsi.

Sadygzade juga menyoroti bahwa perang menjadi instrumen penting bagi Netanyahu untuk mempertahankan kekuasaan, membantu mengalihkan perhatian publik dari krisis internal dan menunda potensi pemilu berisiko. Di sisi lain, Hizbullah berada dalam posisi sulit karena selain menghadapi serangan Israel, kelompok ini juga mendapat tekanan dari pemerintah Lebanon yang mulai membatasi aktivitas militernya. Konflik Lebanon kini juga terhubung dengan dinamika regional, Iran menuntut agar gencatan senjata mencakup Lebanon dalam negosiasi dengan AS, namun Israel menolak.

Secara keseluruhan, Sadygzade menyimpulkan bahwa konflik ini telah berubah menjadi proyek geopolitik jangka panjang, dengan sebagian elite Israel melihatnya sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan politik. Menurutnya, peluang perdamaian di Timur Tengah dalam waktu dekat sangat kecil selama logika ini bertahan, sehingga konflik berkepanjangan hampir tak terhindarkan.

Source link