Aksi Trump dan Neraka di Negeri Sendiri

by -40 Views

Peringatan keras dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait penutupan Selat Hormuz memicu respons tajam dari pejabat tinggi Iran. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menilai langkah militer Washington justru memperburuk situasi, tidak hanya bagi kawasan Timur Tengah tetapi juga bagi warga AS sendiri. Qalibaf menuduh kebijakan perang yang ditempuh Trump terhadap Iran berpotensi membawa konsekuensi besar bagi rakyat AS. Ia menyampaikan kritik tersebut setelah Trump mengeluarkan ultimatum agar jalur pelayaran strategis Selat Hormuz segera dibuka kembali.

Trump memperingatkan bahwa Iran akan “hidup dalam neraka” apabila jalur tersebut tidak dibuka kembali untuk kapal-kapal perdagangan. Qalibaf merespons dengan mengingatkan Trump untuk menghentikan “permainan berbahaya” yang dapat membahayakan Amerika Serikat. Ketegangan ini berkaitan erat dengan penutupan Selat Hormuz oleh Iran setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan kampanye serangan udara terhadap Iran. Gangguan terhadap lalu lintas di selat tersebut akibat konflik tersebut kini mulai berdampak pada pasar energi global, meningkatkan harga energi termasuk di AS.

Tidak hanya Iran, kritik terhadap pendekatan Washington juga datang dari Rusia. Duta Besar Rusia untuk organisasi internasional di Wina, Mikhail Ulyanov, menekankan bahwa pemerintah AS seharusnya memahami posisi Iran dalam proses negosiasi. Menurutnya, Teheran hanya akan menerima kesepakatan yang dibangun di atas “kompromi yang masuk akal,” bukan tekanan atau ultimatum sepihak. Selat Hormuz, sebagai jalur energi paling vital di dunia, menjadi sorotan utama dalam konflik yang sedang berlangsung antara Iran dan AS.

Source link