Indeks saham Kospi Korea Selatan mengalami penurunan 7,24% pada hari Rabu, setelah sebelumnya telah mencatat penurunan terburuk dalam 19 bulan sebelumnya. Penurunan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Investor di wilayah Asia juga tengah mengamati pertemuan parlemen tahunan para pembuat kebijakan China, yang juga dikenal sebagai ‘The Two Sessions.’ Pertemuan ini terdiri dari kongres konsultatif yang dimulai pada hari tersebut, dan Kongres Rakyat Nasional yang dijadwalkan akan dibuka di hari Kamis. Pada Kongres Rakyat Nasional, Perdana Menteri Tiongkok Li Qiang akan mengumumkan serangkaian target ekonomi yang sebagian besar telah diputuskan pada pertemuan bulan Desember sebelumnya. Sementara itu, indeks saham S&P/ASX 200 Australia turun 1,81%, Nikkei 225 Jepang turun 1,59%, dan Topix mengalami penurunan 1,61%. Di Hong Kong, indeks saham Hang Seng juga turun di level 25.448, lebih rendah dari penutupan terakhir indeks acuan. Harga minyak terus naik, dengan harga minyak mentah berjangka AS naik 0,87% menjadi USD 75,21, dan Brent naik 5,43% menjadi USD 81,96 per barel di tengah konflik yang semakin meluas, termasuk upaya Iran untuk menutup Selat Hormuz. Komandan senior dari Garda Revolusi Iran telah menyatakan bahwa Selat Hormuz telah ditutup, dan setiap kapal yang mencoba melintasi jalur air tersebut akan menjadi sasaran.
Penurunan Terburuk Kospi Korsel, Bursa Saham Asia Pasifik





