The Federal Reserve atau the Fed diperkirakan akan memangkas suku bunga paling cepat pada bulan Juni 2026 setelah masa jabatan ketua the Fed Jerome Powell berakhir. Pasar telah melihat tanda-tanda stabilitas di pasar tenaga kerja AS yang bertahap mendingin dan data nonfarm payrolls yang lebih tinggi dari perkiraan minggu ini. Pertanda kekuatan ini dianggap ujian untuk menentukan seberapa cepat the Fed dapat memangkas suku bunga.
Kekhawatiran mengenai independensi the Fed yang dapat memicu tekanan inflasi global tetap mempengaruhi harapan suku bunga. Dengan Jerome Powell masih memimpin hingga bulan Mei, pasar memperkirakan pemangkasan suku bunga akan dilakukan paling cepat pada bulan Juni setelah masa jabatan Powell berakhir. Selain itu, perkembangan geopolitik terus memainkan peran penting dalam harga komoditas, terutama dengan potensi kesepakatan antara AS dan Iran yang mengurangi kekhawatiran akan eskalasi, menyebabkan harga minyak tetap stabil sebagai respons terhadap harapan tersebut.
Meskipun situasi ini memberikan sejumlah bantuan dalam mengurangi tekanan inflasi global, kesepakatan geopolitik yang tak pasti masih memiliki dampak yang lebih signifikan daripada permintaan saat ini. Di dalam negeri, diskusi antara Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan otoritas pasar modal Indonesia terus berlanjut. Bursa efek mengumumkan rencana untuk menerbitkan daftar pemegang saham terkonsentrasi sebagai upaya meningkatkan transparansi di pasar modal Indonesia, sebuah langkah yang telah dilakukan oleh bursa saham di Hong Kong.
Walaupun implementasi kumpulan data ini akan bergantung pada upaya terkait perolehan data ultimate beneficial owner (UBO) yang sedang berlangsung, langkah ini dapat secara signifikan meningkatkan keandalan free float sebenarnya di pasar dan membantu meredakan kekhawatiran MSCI terhadap pasar modal Indonesia.





