Tantangan dan Peluang PLTS di RI dengan Impor Solar Panel China

by -114 Views

Pemerintah Indonesia telah menegaskan komitmennya untuk mencapai swasembada energi dan mendorong program transisi energi menuju Net Zero Emission pada tahun 2026. Langkah ini menjadi pendorong bagi pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) di Tanah Air. Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, PT PLN (Persero) menargetkan penambahan pembangkit listrik sebesar 69,5 Gigawatt, di mana EBT diharapkan mencapai 76% atau sekitar 52,9 GW. Salah satu inisiatif yang disebutkan adalah penambahan kuota Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap hingga 1.400 Megawatt pada tahun 2026.

Chief of Commercial & Business Development ATW Solar Indonesia, Wilson Tanuwijaya, menyebutkan bahwa dukungan pemerintah terhadap pengembangan EBT, termasuk PLTS, menjadi dorongan bagi pertumbuhan sektor ini. Pasar utama PLTS Atap, seperti industri, terus berkembang di era digitalisasi, yang memberikan peluang peningkatan kebutuhan PLTS Atap di Indonesia. Teknologi PLTS yang terus berkembang dan harga baterai yang semakin terjangkau juga membuat daya saing PLTS Atap meningkat.

ATW Solar Indonesia telah sukses melaksanakan instalasi PLTS Atap dan PLTS Tanah lebih dari 60 Mega Watt sepanjang tahun 2025. Perusahaan ini berencana untuk melakukan ekspansi ke sektor pertambangan dan perkebunan guna meningkatkan utilitas terpasang di masa depan. Namun, pengembangan PLTS masih dihadapkan pada berbagai tantangan, seperti kenaikan harga bahan baku panel surya dan pembatasan regulasi dari China sebagai salah satu pemasok utama panel surya di dunia. Konsistensi regulasi jangka panjang dan edukasi masyarakat terhadap penggunaan EBT juga dianggap masih perlu ditingkatkan.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai tantangan dan prospek pengembangan PLTS ke depan, dapat diikuti dialog antara Syarifah Rahma dengan Chief of Commercial & Business Development ATW Solar Indonesia, Wilson Tanuwijaya, dalam program Squawk Box di CNBC Indonesia.

Source link