Pada hari Senin, bursa saham Asia Pasifik mengalami pergerakan yang beragam ketika memasuki pekan perdagangan terakhir tahun 2025. Dalam perdagangan tersebut, indeks Nikkei 225 di Jepang mengalami pelemahan sebesar 0,55%, sementara indeks Topix terpangkas sebesar 0,26%. Di Korea Selatan, indeks Kospi menguat sebesar 0,62% sementara indeks Kosdaq bertambah 0,19%.
Di sisi lain, kontrak berjangka indeks Hang Seng di Hong Kong berada di posisi 25.810, sedikit lebih rendah dari penutupan perdagangan sebelumnya di 25.818,93. Di Australia, indeks ASX 200 cenderung mendatar.
Pada pasar spot, harga perak mencapai rekor tertinggi baru di atas USD 80 per ounce. Analis menyatakan bahwa kenaikan harga perak dipicu oleh pembelian spekulatif dan ketatnya pasokan yang terus berlanjut. Menurut Sprott Asset Management, reli perak pada tahun 2025 sejalan dengan penipisan pasokan yang diperdagangkan secara bebas, yang mendukung kenaikan harga seiring dengan meningkatnya permintaan.
Senior Investment Analyst Global X ETF’s Trevor Yates mengatakan bahwa harga perak saat ini mencerminkan prospek makro yang lebih menguntungkan pada tahun 2026, dengan suku bunga yang lebih rendah dan potensi pelemahan dolar AS yang meningkatkan daya tarik aset riil.
Di sisi lain, kontrak berjangka ekuitas AS cenderung datar pada awal jam perdagangan Asia. Pada akhir pekan sebelumnya di AS, S&P 500 mencapai level tertinggi baru dan mencatatkan kenaikan mingguan seiring dengan kembalinya para pedagang dari liburan Natal. Meskipun demikian, indeks pasar lebih luas ditutup turun 0,03% menjadi 6.929,94. S&P 500 naik 1,4% sepanjang pekan lalu, mencatatkan kenaikan mingguan keempat dalam lima minggu, sementara Dow dan Nasdaq juga mengalami kenaikan lebih dari 1% sepanjang minggu tersebut.





