Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) kembali mengancam pasar tenaga kerja global hingga tahun 2025. Perusahaan-perusahaan besar mulai mengakui bahwa kecerdasan buatan (AI) menjadi faktor utama di balik pengurangan jumlah karyawan. Data dari Challenger, Gray & Christmas mencatat bahwa hampir 55.000 PHK terjadi di Amerika Serikat tahun ini, dengan total PHK diperkirakan mencapai 1,17 juta orang pada 2025.
AI dipandang sebagai solusi efisien untuk menekan biaya operasional dan mengatasi tekanan inflasi serta kenaikan tarif. Penelitian dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) menunjukkan bahwa AI sudah dapat menggantikan sekitar 11,7% pekerjaan di AS dengan potensi penghematan biaya upah hingga US$1,2 triliun.
Perusahaan-perusahaan besar seperti Amazon, Microsoft, Salesforce, IBM, CrowdStrike, dan Workday secara terbuka menyebut penggunaan AI dalam kebijakan PHK dan restrukturisasi. Contohnya, Amazon telah melakukan pemangkasan 14.000 posisi korporasi dan Microsoft mengurangi 15.000 karyawan sepanjang tahun 2025. Salesforce juga melakukan pemangkasan 4.000 staf layanan pelanggan dengan dukungan AI. Perusahaan-perusahaan lain seperti IBM, CrowdStrike, dan Workday juga mengikuti jejak dengan langkah serupa.
Meskipun terdapat kritik bahwa PHK lebih disebabkan oleh perekrutan berlebihan selama pandemi, beberapa akademisi berpendapat bahwa AI kerap dijadikan kambing hitam dalam situasi ini. Fabian Stephany dari Oxford Internet Institute menekankan bahwa banyak dari PHK yang dilakukan sebenarnya untuk melakukan koreksi terhadap kesalahan perekrutan yang dilakukan sebelumnya. Menurutnya, perusahaan seharusnya lebih transparan terkait alasan di balik PHK daripada menyalahkan AI.




