Pengertian ‘Gray Divorce’ dan Dampaknya

by -57 Views

Pernikahan yang bertahan lama tidak selalu menjamin kebahagiaan di masa tua. Fenomena perceraian pasangan berusia 50 tahun ke atas, dikenal dengan istilah gray divorce, menjadi pembahasan yang menarik. Istilah ini pertama kali dicetuskan oleh AARP pada tahun 2004 dan semakin populer setelah penelitian tentang “The Gray Divorce Revolution” dipublikasikan pada tahun 2012.

Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya gray divorce antara lain empty nest syndrome, masalah finansial, perselingkuhan, masalah kesehatan, renggangnya hubungan, ekspektasi yang berubah, dan berkurangnya stigma buruk tentang perceraian. Sudah menjadi hal yang lumrah jika pasangan di usia senja mempertimbangkan perceraian sebagai pilihan terbaik untuk mendapatkan kebahagiaan dan kepuasan pribadi.

Dorongan untuk hidup mandiri di luar pernikahan, serta perubahan ekspektasi terhadap hubungan pernikahan, juga turut memengaruhi keputusan perceraian di usia lanjut. Sikap terbuka terhadap perceraian dan semakin banyaknya perempuan yang mandiri secara finansial memperkuat tren gray divorce. Maka tidak heran jika gray divorce semakin mendapat perhatian di kalangan akademisi dan masyarakat.

Source link