Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, memberikan pesan khusus terkait organisasi TNI dalam pidatonya pada perayaan hari ulang tahun ke-80 TNI di Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat. Pertama, Prabowo menegaskan bahwa pemilihan kepemimpinan di TNI tidak harus terkait dengan senioritas, melainkan lebih penting berdasarkan prestasi, pengabdian, dan cinta Tanah Air. Selain itu, Presiden juga meminta agar organisasi yang dianggap usang di TNI dihapus, serta menekankan perlunya terus mengkaji perkembangan teknologi dan sains.
Sebagai respons atas pesan Prabowo, Kepala Center for Intermestic and Diplomatic Engagement (CIDE) Anton Aliabbas mengapresiasi langkah tersebut, terutama terkait pemilihan pemimpin di TNI yang sebelumnya sering kali berkaitan dengan faktor senioritas yang dapat menyebabkan favoritisme. Anton juga menyambut baik langkah pemerintah dalam memperbaiki karier prajurit TNI dan melakukan pembaruan pada organisasi yang dinilai sudah usang.
Selain itu, pengamat militer dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi menyoroti lima struktur komando dalam organisasi TNI yang harus diperbaiki, termasuk tata kelola Komando Gabungan Wilayah Pertahanan, Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas), komando pengerahan siber dan antariksa, komando logistik gabungan, dan perbaikan pada teritorial yang lebih efisien secara administratif.
Upaya peningkatan kualitas kepemimpinan, efisiensi struktur organisasi, serta fokus pada pengembangan karier prajurit dan kebutuhan pertahanan negara menjadi bagian penting dari arah yang diinginkan untuk mengoptimalkan peran dan fungsi TNI ke depan. Demikianlah upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kinerja dan relevansi TNI dalam menjaga kedaulatan negara.





