Jerome Powell, Ketua the Federal Reserve (the Fed) atau bank sentral Amerika Serikat (AS), telah memberikan sinyal besar akan adanya penurunan suku bunga pada bulan September. Hal ini merupakan respons terhadap tuntutan Presiden AS Donald Trump selama beberapa bulan terakhir. Dalam acara di Jackson Hole, Wyoming, Powell menyatakan bahwa dampak inflasi dari tarif Trump tahun 2025 mungkin hanya bersifat sementara. Meskipun ada tekanan politik terhadap the Fed, termasuk kritik dari Trump dan desakan untuk mencopot Powell dari jabatannya, Powell tampaknya mengambil sikap yang lebih ‘dovish’ dengan kebijakan pelonggaran biaya pinjaman. Hal ini membawa dampak positif bagi pasar saham, seperti terlihat dari kenaikan indeks Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq. Para ekonom dan investor telah memperkirakan penurunan suku bunga pinjaman dari tingkat saat ini sekitar 4,25 hingga 4,5%. Seiring dengan keputusan ini, pasar saham diharapkan merespons dengan positif, memperlihatkan potensi kenaikan di pasar saham Indonesia.
Dampak Pangkas Suku Bunga The Fed ke Pasar Saham Indonesia





