Dari Apem Cakes ke Es Doger: Small Vendors Taste Freedom

by -162 Views

Kemerdekaan Indonesia ke-80 di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto tahun ini memberikan atmosfer yang berbeda. Sekitar 60 pedagang kecil khusus diundang, dengan semua barang dagangannya dibeli oleh Istana Negara untuk disajikan kepada tamu—80 persen di antaranya adalah anggota masyarakat umum.
Merasa bersyukur, Wahyu yang menjual kue tradisional apem hampir tidak bisa menyembunyikan rasa terima kasihnya. “Alhamdulillah, saya sangat bahagia. Saya harap akan diundang lagi di masa depan,” katanya dengan senyum.
Sebuah kegembiraan yang sama dirasakan oleh seorang penjual es doger, yang pertama kalinya menginjakkan kaki di Istana Negara. Berseri, dia berseru, “Alhamdulillah, sangat megah, begitu meriah. Saya benar-benar bahagia—tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ini kali pertama saya masuk ke Istana.”
Sebagai ungkapan khusus tahun ini, Istana mengundang 60 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk menyajikan 30.000 porsi makanan dan minuman secara gratis kepada publik. Para pedagang ditempatkan di tiga titik utama: Halaman Tengah Istana, Taman Pancuran (sebelumnya DPA), dan area parkir Sekretariat Presiden.
Bagi banyak pengunjung, kesempatan untuk merasakan Istana Negara dari dekat sungguh luar biasa. Seorang peserta dengan nama @ijoeel di Instagram membagikan impresinya, “Luar biasa, Istana begitu terbuka dan menyenangkan. Biasanya, halaman tengah secara ketat dilarang untuk foto atau masuk secara sembarangan—bahkan jika Anda bekerja di area Istana,” tulisnya.
Dia juga memuji Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) karena menjaga keseimbangan yang tepat antara keamanan dan keramahan. “Memberikan penghormatan kepada Paspampres karena menjaga keamanan namun tetap nyaman, dan kepada semua orang yang membuat perayaan Hari Kemerdekaan ini begitu hebat!” tambahnya.
Peringatan tahun ini tidak hanya merupakan festival rakyat tetapi juga merupakan simbol keterbukaan baru Istana di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo—di mana pejabat, warga biasa, dan pedagang kaki lima bersatu dalam ruang bersama untuk kesatuan.

Source link