Hubungan dengan orang tua seharusnya menjadi tempat paling aman untuk pulang, namun tidak semua anak merasakan hal tersebut. Ketika orang tua memberikan tekanan emosional, merendahkan, atau bahkan mengabaikan perasaan anak, situasi tersebut bisa sangat menyakitkan dan membingungkan. Istilah “toxic parents” digunakan untuk menjelaskan situasi ini, dan jika kamu mengalaminya, penting untuk tahu bahwa kamu tidak sendirian. Ada delapan cara bijak yang bisa kamu lakukan untuk menghadapi situasi tersebut secara lebih sehat dan tegas.
Langkah pertama yang penting adalah mengakui dan menghargai perasaan yang kamu rasakan. Jangan biarkan siapa pun, termasuk orang tua, meragukan perasaan yang kamu alami, karena perasaanmu valid. Buat batasan yang sehat, bukan sebagai bentuk tidak hormat, tetapi sebagai perlindungan diri. Jangan berusaha mengubah perilaku orang tua, karena yang bisa kamu kendalikan adalah dirimu sendiri. Komunikasi terbuka dan taktis bisa membantu dalam situasi ini, tetapi jika suasana terlalu panas, lebih baik jaga jarak.
Luangkan waktu untuk merawat diri dan jangan ragu untuk mencari dukungan dari orang lain. Hal ini penting karena pola asuh yang toxic bisa meninggalkan luka jangka panjang, maka menjaga kesehatan mental sangatlah penting. Menghadapi toxic parents bukan berarti harus membenci atau memutus hubungan, namun tentang menjaga kesehatan mental sambil tetap menunjukkan sikap hormat. Jika situasi sudah tidak tertangani, meminta bantuan dari tenaga profesional adalah langkah berani untuk mencintai diri sendiri dan membangun masa depan yang lebih sehat secara emosional.





