Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, bersama jajaran Kabinet Merah Putih baru saja melakukan lawatan ke Rusia untuk bertemu Presiden Vladimir Putin. Pertemuan bilateral di Istana Konstantinovsky, St. Petersburg menghasilkan beberapa kesepakatan kerja sama dalam berbagai sektor strategis, termasuk potensi kerja sama di bidang pertahanan. Putin menyatakan kesiapannya untuk membantu Indonesia mengembangkan teknologi nuklir dalam negeri.
Rusia tertarik bekerja sama dengan Indonesia karena menganggap Indonesia sebagai mitra kunci di Asia Pasifik, terutama setelah Indonesia bergabung dengan BRICS. Jika kerja sama nuklir terwujud, akan memberikan dukungan politik dan geopolitik serta mempererat hubungan bilateral. Potensi kerja sama ini diharapkan dapat menciptakan keuntungan dalam bidang pertahanan, energi, dan upaya modernisasi alutsista.
Kerja sama nuklir antara Indonesia dan Rusia, terutama dalam pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir, diharapkan dapat memberikan energi bersih, murah, dan berkelanjutan. Namun, kerja sama ini juga memiliki potensi kerugian seperti tantangan dalam pengelolaan limbah nuklir dan kemungkinan sanksi dari negara-negara Barat. Oleh karena itu, Indonesia perlu memiliki rencana yang jelas dan hati-hati dalam menangani kerja sama ini.





