Material konstruksi yang ramah lingkungan semakin menjadi kebutuhan utama di industri saat ini. Dodiet Prasetyo, Direktur Logam dari Ditjen Ilmate Kementerian Perindustrian, menegaskan pentingnya pengembangan produk baja yang efisien energi dan ramah lingkungan dalam diskusi panel di Jakarta. Menurutnya, pemenuhan baja ramah lingkungan menjadi kunci untuk memperkuat daya saing industri nasional di era transisi global menuju ekonomi hijau.
Kimron Manik, Direktur Keberlanjutan Konstruksi dari Ditjen Bina Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum, juga menekankan pentingnya infrastruktur masa depan yang lebih cerdas, hijau, dan dibangun secara berkelanjutan. Kementerian Pekerjaan Umum sendiri telah mendorong penggunaan material konstruksi ramah lingkungan mulai dari tahap desain hingga operasional. Baja dipandang memiliki peranan penting dalam mendukung pembangunan yang berkelanjutan dan adaptif.
PT Gunung Raja Paksi Tbk (GRP) sebagai produsen baja turut merespons kebutuhan pasar yang semakin beragam dengan meluncurkan dua lini produk baru, Fortise dan Fortise+. Presiden Direktur GRP, Fedaus, berharap kedua jenis baja ini dapat memperluas kontribusi industri baja nasional dalam memenuhi kebutuhan sektor strategis. Selain itu, hal ini juga sejalan dengan upaya Indonesia untuk mencapai target Net Zero Emission (NZE) 2060 atau lebih cepat.
Dengan komitmen untuk terus berinovasi, Fedaus menekankan pentingnya penghadiran pilihan material baja yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan dan sesuai dengan kebutuhan pasar. Hal ini menjadi langkah nyata dalam mendukung industri konstruksi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan di Indonesia.





