“Penemuan Menjanjikan di Balik Hukuman Mati Kakek China”

by -181 Views

Pengadilan Tinggi di China memvonis hukuman mati Fan Weiqiu yang menabrakkan SUV miliknya ke kerumunan masyarakat yang sedang berolahraga di kota Zhuhai, Guangdong, China. Pihak berwenang di Zhuhai menunggu 24 jam sebelum mengungkapkan jumlah korban tewas akibat serangan itu, yang menyebabkan 35 orang tewas dan 43 lainnya terluka. Aksi pria berusia 62 tahun itu bertepatan dengan malam pertunjukan udara terbesar di China pada bulan November 2024 lalu. Padahal, pemerintah kota setempat telah meningkatkan keamanan bertepatan dengan momen pertunjukan udara terbesar di China itu, mulai dari pintu masuk dan keluar yang ditutup. Usai melakukan aksinya itu, Fan ditemukan di dalam kendaraannya dan mencoba menusuk dirinya sendiri. Polisi setempat mengungkapkan Fan menabrakkan SUV crossover miliknya ke kerumunan warga yang tengah berolahraga di pusat olahraga itu sekitar pukul 7:48 malam waktu setempat. Namun, Fan mencoba melarikan diri dari tempat kejadian. Pengadilan Zhuhai mengungkapkan, Fan sengaja melakukan hal itu karena marah atas penyelesaian perceraianya. Fan sendiri sudah mengaku bersalah atas kejadian itu dan mengungkapkan dirinya melakukan aksi yang membahayakan keselamatan publik. Sehari setelah serangan, polisi menutup kompleks olahraga tersebut, sehingga publik tidak dapat mengakses tempat tersebut. Para pelayat meninggalkan karangan bunga di alun-alun terdekat sebagai penghormatan kepada para korban. Selama akhir Oktober-November 2024, sudah ada serangkaian insiden kekerasan yang terjadi di China. Fan Weiqiu hanya salah satu kejadian yang menambah was-was masyarakat akan potensi kejahatan pembunuhan massal. Presiden Xi Jinping juga mengambil langkah untuk mengarahkan pemerintah daerah agar mengambil tindakan pencegahan terhadap kasus-kasus ekstrem di masa mendatang. Sebagai tanggapan, pejabat setempat berjanji untuk menangani perselisihan pribadi yang dapat meningkat menjadi kekerasan, termasuk konflik mengenai penyelesaian pernikahan dan perselisihan warisan.